Selamat datang, bacalah selalu "Basmalah" sebelum membacanya, semoga bisa menambah pengetahuan bagi kita semua
Blogger

This is Kalimah Tayyab

Laaa Ilaaha Illa-llaahu Muhammadur-Rasoolu-llaah

There is none worthy of worship except Allah and Muhammad is the Messenger of Allah

Blogger

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Blogger

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Blogger

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Blogger

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Monday, January 29, 2018

Blogger

Layout Desain Web Dasar

Dalam dunia desain, Layout berbicara mengenai bagaimana penataan elemen-elemen dalam sebuah halaman dengan benar. Sama seperti tipografi, terdapat sangat banyak elemen-elemen pada layout, yang tentunya tidak akan dapat dibahas pada bagian ini sendiri. Pembahasan layout secara menyeluruh akan memerlukan bukunya tersendiri. Kita akan hanya melihat elemen-elemen layout yang umumnya ditemukan pada dokumen web, dan bagaimana membuat elemen-elemen tersebut dengan HTML dan CSS.
Sebuah dokumen web umumnya memiliki elemen-elemen sebagai berikut:
Elemen-elemen Layout pada Dokumen Web
Elemen-elemen Layout pada Dokumen Web
Elemen Header
Seperti namanya, merupakan elemen yang berisi judul dan penjelasan lain dokumen. Biasanya elemen ini diisikan dengan logo website, menu-menu global (seperti login dan logout), maupun nama halaman yang sedang ditampilkan.
Elemen Navigation
Elemen navigasi, yang memberikan akses navigasi ke halaman-halaman lain dalam web.
Elemen Sidebar
Elemen pendukung konten, dapat berupa pembantu navigasi konten, ataupun berbagai hal lain seperti daftar konten lain, iklan, atau menu tambahan. Sidebar dapat berada di kiri atau kanan konten, atau bahkan di kiri dan kanan konten, sesuai dengan kreatifitas perancangnya.
Elemen Konten
Isi utama dari dokumen web. Pengguna biasanya datang ke web untuk melihat teks yang berada pada bagian ini.
Elemen Footer
Bagian penutup dari website, yang dapat saja berisi informasi lain tentang website, seperti lisensi pengunaan, sitemap, ataupun link ke website lain.
Bagaimana kita dapat membuat layout umum seperti yang tampak pada gambar Elemen-elemen Layout pada Dokumen Web di atas? Sebelum membuat layout, tentunya kita terlebih dahulu harus mengetahui cara pengukuran elemen pada HTML. Karena tanpa dapat mengukur elemen dengan benar, kita tidak akan dapat membuat layout yang bagus.

Box Model

Salah satu prinsip mendasar dalam menyusun elemen-elemen HTML ialah Box Model. Apa itu box model? Konsep box model pada dasarnya merupakan konsep yang menyatakan bahwa elemen-elemen yang ada di dalam HTML adalah berbentuk kotak. Sekali lagi, seluruh elemen HTML berbentuk kotak. Ukuran dari setiap elemen itu sendiri dipengaruhi oleh isi dari elemen, marginpadding, dan border dari elemen tersebut.
Semua elemen juga dapat dikategorikan ke dalam dua cara penampilan, yaitu:
  • Block Level Element merupakan elemen yang selalu dimulai pada baris baru, dan menambahkan baris baru pada akhir elemen. Hal ini menyebabkan elemen yang bersifat block akan selalu berada pada baris barunya sendiri ketika dituliskan. Contoh dari elemen block: ph1, dan blockquote.
  • Inline Level Elements merupakan elemen yang tidak membuat baris baru ketika dibuat. Elemen ini akan mengikuti alur dokumen sebagaimana mestinya, dan memiliki ukuran tinggi yang ditentukan serta ukuran lebar yang sesuai dengan isi elemen. Contoh dari elemen inline: spanbi.
Perlu diperhatikan bahwa karena sifatnya, sebuah elemen inline tidak akan dapat menampung elemen blok (memiliki elemen blok di dalamnya), sementara elemen blok dapat menampung elemen blok maupun inline.
Kode di bawah memperlihatkan contoh perbedaan block level elemen dengan inline level element:
<h1>Elemen H1</h1>
<p>Elemen p otomatis membuka baris baru dari elemen h1, tetapi elemen
<b>bold</b> ini tidak</p>
Jalankan kode di atas untuk melihat efeknya!
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, sebuah elemen HTML berbentuk kotak, dan ukurannya dipengaruhi oleh isi elemen, margin, padding, dan border. Kode berikut menunjukkan contoh total luas sebuah elemen, lakukan simpan kode ke dalam sebuah file HTML dan jalankan untuk melihat hasilnya:
<!DOCTYPE html>
<html>
    <head>
        <title></title>
        <style type="text/css">
            #boxmodel {
                background: #CDE;
                border: 25px solid #ABC;
                height: 100px;
                margin: 25px;
                padding: 25px;
                width: 300px;
            }
        </style>
    </head>
    <body>
        <div>Box Model</div>
        <div id="boxmodel">
        </div>
        <div>Box Model</div>
    </body>
</html>
Hasil dari eksekusi kode adalah sebagai berikut:
Hasil Eksekusi Kode Box Model
Hasil Eksekusi Box Model
Bagaimana panjang dan lebar dari kotak pada kode di atas? Mari kita lihat selengkapnya:
Pengukuran Box Model
Pengukuran Box Model
Seperti yang dapat dilihat pada gambar di atas, pengukuran total dari panjang elemen adalah:
margin-right + border-right + padding-right + width + padding-left +
border-left + margin-left
dan tinggi total dari sebuah elemen adalah:
margin-top + border-top + padding-top + height + padding-bottom +
border-bottom + margin-bottom
sehingga total dari panjang elemen tersebut yaitu 450px, dan total tinggi elemen ialah 250px.
Mari kita lihat properti-properti CSS yang mempengaruhi box model.

Properti Height dan Width

Setiap elemen yang ada dalam HTML memiliki tinggi dan lebar yang standar, yang didapatkan dengan menyesuaikan ukuran konten. Tergantung kepada tujuan pembuatan dokumen, tinggi dan lebar standar yang diberikan oleh elemen mungkin saja tidak tepat digunakan. Properti height dan weight digunakan untuk mengubah tinggi dan lebar standar ketika dibutuhkan.
Berikut adalah contoh pengunaan kedua properti ini:
div {
    height: 20px;
    width: 30px;
}
Kedua properti ini hanya dapat digunakan untuk block level element.

Properti Margin dan Padding

Setiap browser memberkan jarak antar elemen secara standar, agar elemen-elemen HTML dapat ditampilkan dengan optimal. Jarak antar elemen ini berbeda-beda, tergantung kepada browser yang mengimplementasikan. Untuk mengubah jarak antar elemen, kita dapat menggunakan properti margin.
Terkadang kita juga ingin memberikan jarak di dalam elemen sendiri, yaitu jarak dari konten elemen ke pembatas (border) elemen. Jarak ini dikenal dengan nama padding. Padding kerap digunakan untuk memberikan warna latar yang baik pada elemen. Berikut adalah contoh kode pengunaan margin dan padding:
div {
    margin: 10px;
    padding: 15px;
}
Untuk lebih jelasnya, lihat juga gambar Pengukuran Box Model pada bagain margin dan padding.
Sedikit catatan tambahan, properti padding dan margin dapat juga ditulis dengan singkat. Penulisan hanya dengan satu nilai seperti pada kode di atas akan menyebabkan nilai padding dan margin diimplementasikan pada keempat sisi elemen:
p {
    margin: 40px;
}
Mengisikan dua nilai akan mengisikan nilai padding dan margin atas dan bawah pada nilai pertama, serta kiri dan kanan pada nilai kedua, seperti berikut:
p {
    /*
        margin-top: 25px
        margin-bottom: 25px

        margin-left: 50px;
        margin-right: 50px;
    */
    margin: 25px 50px;
}
Dan seperti yang dapat ditebak, pengisian empat nilai akan dilakukan secara berurutan pada margin dan padding atas, kanan, bawah, dan kiri:
p {
    /*
        margin-top: 10px
        margin-right: 20px;
        margin-bottom: 30px
        margin-left: 40px;
    */
    margin: 10px 20px 30px 40px;
}
Selain itu, kita juga dapat mengubah hanya satu bagian dari margin ataupun padding dengan menambahkan kata toprightbottom, dan left setelah margin atau padding seperti berikut:
p {
    margin-top: 10px;
    margin-right: 20px;
    margin-bottom: 30px
    margin-left: 40px;
}

Border

Border, sebagai pemberi tanda batas elemen memisahkan margin dan padding. Terdapat tiga properti utama yang membentuk sebuah border, yaitu border-widthborder-style, dan border-color.
border-width
Seperti namanya, properti ini menentukan ketebalan border, yang diisikan dengan nilai pixel. Contoh kode adalah sebagai berikut:
div {
    border-width: 10px;
}
border-style
Menentukan cara penampilan dari border. Pilihan nilai yang dapat diisikan yaitu: nonehiddendotteddashedsoliddoublegrooveridgeinset, dan outset. Ingin mengetahui kegunaan masing-masing nilai? Silahkan coba implementasikan elemen tersebut! Jika tidak diisikan, maka secara otomatis nilai yang dipilih ialah none, sehingga border tidak akan tampak.
Contoh kode:
div {
    border-style: dotted;
}
border-color
Seperti namanya, memberikan warna kepada border. Jika warna tidak diberikan, maka border akan menjadi warna hitam. Contoh kode:
div {
    border-color: red;
}
Ketiga properti di atas seringkali digunakan bersamaan, karena ketergantungan antar properti tersebut dalam membuat border yang indah. Penggabungan ketiga properti dapat ditulis dalam properti border seperti berikut:
div {
    border: 1px solid red;
}
Dan seperti yang dapat dilihat dari kode di atas, tentunya urutan penulisannya ialah border-width border-style border-color.
Meskipun seluruh elemen pada dasarnya berbentuk kotak, CSS memungkinkan kita untuk menampilkan elemen dengan sedikit variasi, yaitu memberikan sudut bulat kepada elemen.
Contoh Elemen dengan Sudut Bulat
Contoh Elemen dengan Sudut Bulat
Kita dapat menggunakan properti border-radius untuk membuat efek sudut bulat, seperti pada kode di bawah:
div {
    border-radius: 10px;
}
Selain pengisian dengan satu nilai, tentunya border-radius dapat diisikan dengan banyak nilai. Sayangnya, karena kompleksitas properti ini, maka pembahasan lebih jauh mengenai border-radius tidak akan dilakukan. Jika ingin mengetahui detil dari elemen ini, silahkan baca di sini.

Penyusunan Elemen

Pengukuran elemen dengan mengikut sertakan box model hanya merupakan sebagian pengetahuan yang diperlukan untuk membuat layout halaman yang sempurna. Pengetahuan lain yang harus dimengerti juga ialah cara menyusun elemen-elemen yang ada di dalam dokumen. Bagian ini akan membahas bagaimana menyusun elemen-elemen yang ada dalam dokumen, dengan berbagai teknik yang disediakan oleh HTML dan CSS.

Penampungan Elemen

Apa maksud dari “penampung” sebuah elemen? Elemen penampung ialah elemen yang memiliki banyak elemen-elemen lain di dalamnya. Misalnya, pada kode di bawah:
<p>
    Ini adalah sebuah paragraf, yang didalamnya terdapat
    elemen <b>bold</b>, <i>italic</i>, <em>emphasis</em>,
    dan <strong>strong</strong>.
</p>
Pada kode di atas, elemen p merupakan penampung dari elemen biem, dan strong. Bagaimana jika kita tidak ingin menggunakan p untuk menampung seluruh elemen-elemen yang ada? Untuk menampung elemen-elemen secara generik, kita dapat menggunakan elemen div. Elemen div merupakan elemen yang dirancang sebagai penampung dari elemen lainnya, sehingga elemen ini tidak memiliki makna semantik. Kita dapat menggunakan div untuk menampung berbagai elemen, tanpa batasan, misalnya:
<div class="wrapper">
    <section id="articles">
        <article>
            <!-- Teks -->
        </article>
        <article>
            <!-- Teks -->
        </article>
        <article>
            <!-- Teks -->
        </article>
    </section>
    <aside>
        <nav>
            <!-- Menus -->
        </nav>
    </aside>
</div>
Dapat dilihat bagaimana div.wrapper di atas menampung banyak elemen-elemen blok lainnya. Dengan kode HTML di atas, panjang dari elemen-elemen yang ada di dalam div.wrapper tidak akan pernah lebih panjang dibandingkan dengan div.wrapper itu sendiri. Coba jalankan kode di bawah untuk melihat bagaimana elemen-elemen yang ada di dalam div.wrapper tidak dapat melewati ukuran div.wrapper itu sendiri:
<!DOCTYPE html>
<html>
    <head>
        <title></title>
        <style type="text/css">
            .wrapper {
                background: red;
                color: white;
                height: 600px;
                width: 800px;
            }
        </style>
    </head>

    <body>
        <div class="wrapper">
            <p>
            Proin nec rhoncus, quis, elementum amet parturient augue
            sagittis dictumst in dolor scelerisque pid, sociis enim
            porttitor et, porta porttitor. Tincidunt egestas ultricies,
            scelerisque.
            </p>
            <p>
            Dis augue, in elementum lundium lectus porttitor duis turpis
            dis. Nisi vel porta turpis arcu nec diam penatibus, et sit
            integer enim scelerisque ut amet? Nascetur nisi parturient
            lundium augue?
            </p>
            Odio sagittis cursus et ut ridiculus pulvinar habitasse,
            elementum et tristique non, nisi porttitor magna! Tristique
            adipiscing penatibus sed nunc. Non pulvinar vut porttitor!
            Odio nisi porttitor sit tincidunt dictumst, massa rhoncus.
            Sociis enim habitasse enim, nunc nascetur, ridiculus, et mus
            nascetur, augue ultricies aliquet mus a adipiscing amet?
            </p>
        </div>
            <p>
            Proin nec rhoncus, quis, elementum amet parturient augue
            sagittis dictumst in dolor scelerisque pid, sociis enim
            porttitor et, porta porttitor. Tincidunt egestas ultricies,
            scelerisque.
            </p>
            <p>
            Dis augue, in elementum lundium lectus porttitor duis turpis
            dis. Nisi vel porta turpis arcu nec diam penatibus, et sit
            integer enim scelerisque ut amet? Nascetur nisi parturient
            lundium augue?
            </p>
    </body>
</html>
Ketika kode dijalankan maka hasilnya adalah sebagai berikut:
Hasil Eksekusi Kode div.wrapper
Hasil Eksekusi Kode div.wrapper
Perhatikan bagaimana paragraf yang berada di luar div.wraapper dapat melewati 800px (panjang dari div.wrapper) sementara paragraf yang berada di dalam div.wrapper harus berpindah baris ketika mencapai ujung dari div.wrapper.

Floating Element

Bagaimana dengan penyusunan elemen yang berada di dalam penampung? Salah satu cara untuk mengorganisasikan posisi elemen yang saling bersisian ialah menggunakan properti float. Properti float memungkinkan kita membuat sebuah elemen “mengapung” pada sisi kiri ataupun kanan dari penampung elemen tersebut. Untuk lebih mudahnya, mari kita lihat cara kerja dari elemen float secara langsung!
Ganti kode CSS dari kode pada gambar Hasil Eksekusi Kode div.wrapper menjadi kode berikut:
.wrapper {
    background: red;
    color: white;
    height: 600px;
    width: 800px;
}

.wrapper p {
    background: blue;
    color: white;
    float: left;
    margin: 10px;
    padding: 10px;
    width: 200px;
}
dan kemudian jalankan. Anda akan dapat melihat bagaimana paragraf-paragraf di dalam div.wrapper menjadi berukuran kecil, dan “terbang” saling bersisian, ke arah kiri. Paragraf yang paling pertama kali dituliskan akan menjadi paragraf yang paling kiri, dan seterusnya.
Float: Left
Float: Left
Dan hal sebaliknya akan terjadi ketika kita mengubah nilai float menjadi right. Paragraf yang paling pertama kali dituliskan menjadi paragraf yang paling kanan, dan seterusnya.
Float: Right
Float: Right
Hal lainnya yang perlu diperhatikan ialah bahwa properti float merusak alur dari halaman. Apa artinya merusak alur dari halaman? Ketika menggunakan properti ini maka elemen-elemen lain akan menjadi terpaksa mengikuti aturan kanan maupun kiri dari float. Misalnya, jika kita menambahkan sebuah h1 setelah paragraf ketiga, sehingga isi dari div.wrapper adalah sebagai berikut:
<div class="wrapper">
    <p>
    Proin nec rhoncus, quis, elementum amet parturient augue sagittis
    dictumst in dolor scelerisque pid, sociis enim porttitor et, porta
    porttitor. Tincidunt egestas ultricies, scelerisque.
    </p>
    <p>
    Dis augue, in elementum lundium lectus porttitor duis turpis dis.
    Nisi vel porta turpis arcu nec diam penatibus, et sit integer enim
    scelerisque ut amet? Nascetur nisi parturient lundium augue?
    </p>
    <p>
    Odio sagittis cursus et ut ridiculus pulvinar habitasse, elementum
    et tristique non, nisi porttitor magna! Tristique adipiscing
    penatibus sed nunc. Non pulvinar vut porttitor! Odio nisi porttitor
    sit tincidunt dictumst, massa rhoncus. Sociis enim habitasse enim,
    nunc nascetur, ridiculus, et mus nascetur, augue ultricies aliquet
    mus a adipiscing amet?
    </p>
    <h1>Ini adalah sebuah judul yang terpengaruh float.</h1>
</div>
Maka elemen h1 tersebut akan secara otomatis mengikuti alur elemen-elemen p sebelumnya, dan mulai dari akhir elemen p terakhir, seperti pada gambar berikut:
Float: Right dengan H1
Float: Right dengan H1
Bagaimana jika kita ingin memaksa h1 kembali ke alur halaman yang benar? Untuk menghapus segala “jejak” dari float dan mengembalikan alur halaman ke alur normal, kita dapat menggunakan properti clear. Tambahkan kode CSS berikut:
.wrapper h1 {
    clear: both;
}
maka elemen h1 akan secara otomatis membuka baris baru, sesuai dengan alur halaman yang seharusnya.
Mengembalikan Alur Halaman dengan Clear
Mengembalikan Alur Halaman dengan Clear
dan dengan begitu, tentunya kita dapat dengan mudah membuat layout seperti pada gambar Elemen-elemen Layout pada Dokumen Web, bukan?

Pembangunan Layout Web Dasar

Layout web dasar yang sering kita temukan adalah seperti yang ada pada gambar Elemen-elemen Layout pada Dokumen Web.
Elemen-elemen Layout pada Dokumen Web
Elemen-elemen Layout pada Dokumen Web
Bagaimana kita dapat membangun layout seperti pada gambar di atas? Berdasarkan apa yang telah kita pelajari sejauh ini, tentunya anda telah dapat membayangkan apa yang harus dilakukan. Sederhananya: width dan height pada seluruh elemen, float pada sidebar dan content, serta clear pada footer. Perlu diingat juga bahwa pada dokumen web yang sebenarnya, properti height jarang digunakan karena tinggi elemen biasanya ditentukan oleh isi dari elemen itu sendiri.
Untuk membuat layout seperti pada gambar Elemen-elemen Layout pada Dokumen Web, kita dapat menggunakan kode HTML dan CSS berikut:
<!DOCTYPE html>
<html>
    <head>
        <title>Layout Dasar Dokumen Web</title>

        <style type="text/css">
            body {
                width: 960px;
            }

            header, nav, aside, section, footer {
                background: #14BCE6;
                border: 1px solid white;
                color: white;
                font-size: 2em;
                font-variant: small-caps;
                text-align: center;
            }

            header, nav, footer {
                width: 100%;
            }

            header, footer {
                height: 100px;
            }

            nav {
                height: 50px;
            }

            aside {
                float: left;
                height: 250px;
                width: 29.5%;
            }

            section#content {
                float: right;
                height: 250px;
                width: 70%;
            }

            footer {
                clear: both;
            }
        </style>
    </head>

    <body>
        <header>Header</header>

        <nav>Navigation</nav>

        <aside>Sidebar</aside> <section id="content">Content</section>

        <footer>Footer</footer>
    </body>
</html>
Eksekusi kode, dan kita akan dapat melihat hasil eksekusi sebagai berikut:
Hasil Pembuatan Layout Standar Dokumen Web
Hasil Pembuatan Layout Standar Dokumen Web
Cara membuat teks yang ada di dalam elemen-elemen HTML berada di tengah secara vertikal akan dibiarkan untuk menjadi latihan bagi pembaca.
Perhatikan juga bahwa kode yang digunakan untuk membuat tampilan di atas tidak lagi terurut sesuai dengan penulisan kode, seperti pada gambar di bawah:
Transformasi Kode ke Halaman Web (`Sumber`_)
Transformasi Kode ke Halaman Web (Sumber)

Clear Fix

Salah satu permasalahan utama dari pengunaan float ialah ketika kita menggunakan sebuah elemen kontainer yang hanya menampung elemen float saja. Karena sifat utama dari float yang “menerbangkan” elemen, maka kontainer menjadi dianggap tidak memiliki tinggi, dan elemen-elemen lain akan langsung berada di bawah elemen kontainer tersebut. Penjelasan mengenai bagaimana menyelesaikan masalah ini telah diberikan sebelumnya, pada bagian Floating Element, di mana kita menggunakan kode CSS berikut:
.wrapper h1 {
    clear: both;
}
untuk menyelesaikan masalah. Sayangnya, kode di atas tidak menyelesaikan seluruh masalah yang ada, karena jika kita tidak mengetahui dengan pasti di mana elemen selanjutnya akan diletakkan, maka kode di atas tidak akan dapat bekerja dengan baik. Metode lain untuk membersihkan float ialah dengan menggunakan teknik “clear fix”, yang kodenya dapat dilihat sebagai berikut:
.container {
    margin: 0;
    padding: 0;
}

.container:before,
.container:after {
    content:"";
    display:table;
}
.container:after {
    clear:both;
}
Pada prinsipnya, kode di atas membersihkan float dengan clear: both dan penambahan sebuah tabel “dummy” sebelum dan sesudah elemen penampung.

Grid

Sebuah layout yang baik menyusun elemen-elemen halaman dengan rapi dan mudah diprediksi. Kemudahan prediksi penting agar pembaca / pengguna web anda tidak perlu berpikir dalam menggunakan web anda. Ingat, “Don’t Make Me Think” merupakan salah satu prinsip dasar dalam pembuatan antarmuka web dan aplikasi secara general. Salah satu cara untuk membuat halaman lebih mudah diprediksi ialah dengan menggunakan garis pembantu penyusunan elemen, yang dikenal dengan nama “Grid” pada dunia web.
Sebagai garis pembantu dalam menyusun elemen, Grid dibuat dalam berbagai bentuk dan ukuran, sesuai dengan keperluan. Penempatan elemen dilakukan di dalam sebuah Grid, ataupun di dalam beberapa Grid. Pemakaian Grid umumnya dilakukan untuk menyusun elemen secara merata. Untuk lebih mudahnya, perhatikan gambar berikut:
Contoh Pengunaan Grid pada Drupal
Contoh Pengunaan Grid pada Drupal
Pada gambar Contoh Pengunaan Grid pada Drupal, kita dapat melihat bagaimana situs Drupal dibangun menggunakan 12 buah Grid, yang masing-masing elemennya disusun berdasarkan Grid tersebuut. Elemen feature Drupal, yang berada di paling atas halaman, mengambil ruang 12 Grid, sementara 3 elemen informasi mengenai drupal masing-masing mengambil 4 Grid. Penyusunan seperti ini kerap kali ditemukan dalam banyak website-website lain, dengan ukuran Grid yang berbeda-beda.

Pembuatan Grid

Pembuatan Grid dapat dilakukan dengan mudah, dengan melakukan pembagian terhadap ukuran halaman web yang ingin dibangun dengan jumlah kolom Grid yang diinginkan, dengan memperhitungkan Box Model juga tentunya. Misalkan, jika ingin membuat halaman berukuran 960 px memiliki 12 Grid, kita dapat melakukan perhitungan berikut:
lebar_grid = 960 / 12
lebar_grid = 80 px
dan dengan memperkirakan box model, jika ingin setiap kolom memiliki jarak 20 px kita dapat menambahkan margin ke kiri dan ke kanan pada setiap kolom, sebanyak setengah dari jarak yang diinginkan (10 px), seperti berikut:
konten_grid = 80 - jarak
            = 80 - 20
            = 60 px
Sehingga ukuran margin kiri dan kanan dari elemen adalah:
margin_kiri_kanan = jarak / 2
                  = 20 / 2
                  = 10 px
Dengan perhitungan yang telah dilakukan, maka kita dapat memperkirakan bentuk dari sebuah Grid adalah sebagai berikut:
Perkiraan Bentuk Sebuah Grid
Perkiraan Bentuk Sebuah Grid
dan dengan mengurutkan kedua belas Grid tersebut, kita bisa mendapatkan sebuah halaman yang berukuran 960 px. Tentunya dengan prinsip yang sama kita juga dapat membuat Grid yang merupakan gabungan dari 2 Grid, 3 Grid, sampai 12 Grid!
Grid, dari 1 Grid sampai gabungan 12 Grid
Grid, dari 1 Grid sampai gabungan 12 Grid
Pembuatan kode Grid menggunakan CSS sendiri sangatlah sederhana. Kita dapat memulai pembuatan kode dengan memberikan nama kelas, untuk setiap ukuran Grid. Misalnya, kita menggunakan nama kelas “coln” untuk setiap kolom Grid, dengan n adalah lebar kolom yang diinginkan. Misalnya, kolom berukuran 2 Grid akan memiliki nama kelas col2, 4 kolom memiliki nama kelas col4, dan seterusnya.
Untuk mengawali, hilangkan padding, margin atas bawah, dan berikan warna serta float kepada seluruh kolom yang ada:
.col1, .col2, .col3, .col4,
.col5, .col6, .col7, .col8,
.col9, .col10, .col11, .col12 {
    background: #CCC;
    display: block;
    float: left;
    height: 30px;
    line-height: 30px;
    margin: 0 10px 0 10px;
    padding: 0;
    text-align: center;
}
Kemudian, kita dapat mengaplikasikan perhitungan yang telah dilakukan sebelumnya ke masing-masing ukuran kolom:
.col1 {
    width: 60px;
}

.col2 {
    width: 140px;
}

.col3 {
    width: 220px;
}

.col4 {
    width: 300px;
}

.col5 {
    width: 380px;
}

.col6 {
    width: 460px;
}

.col7 {
    width: 540px;
}

.col8 {
    width: 620px;
}

.col9 {
    width: 700px;
}

.col10 {
    width: 780px;
}

.col11 {
    width: 860px;
}

.col12 {
    width: 940px;
}
dan kemudian, tentunya container dan clearfix untuk setiap container yang ada:
.container {
    background: #555;
    margin: 0;
    padding: 0;
    width: 960px;
}

.container:before,
.container:after,
.row:before,
.row:after {
    content:"";
    display:table;
}
.container:after,
.row:after {
    clear:both;
}

.row {
    clear: both;
    margin: 10px 0 10px 0;
}
Untuk melihat efeknya, simpan seluruh kode CSS di atas ke dalam sebuah file bernama grid.css, dan jalankan kode HTML berikut:
<!DOCTYPE html>
<html>
    <head>
        <title>Contoh Grid pada HTML</title>
        <link rel="stylesheet" href="grid.css">
    </head>

    <body>
        <div class="container">
            <div class="row">
                <div class="col1">1</div>
                <div class="col1">1</div>
                <div class="col1">1</div>
                <div class="col1">1</div>
                <div class="col1">1</div>
                <div class="col1">1</div>
                <div class="col1">1</div>
                <div class="col1">1</div>
                <div class="col1">1</div>
                <div class="col1">1</div>
                <div class="col1">1</div>
                <div class="col1">1</div>
            </div>

            <div class="row">
                <div class="col2">2</div>
                <div class="col2">2</div>
                <div class="col2">2</div>
                <div class="col2">2</div>
                <div class="col2">2</div>
                <div class="col2">2</div>
            </div>

            <div class="row">
                <div class="col3">3</div>
                <div class="col3">3</div>
                <div class="col3">3</div>
                <div class="col3">3</div>
            </div>

            <div class="row">
                <div class="col4">4</div>
                <div class="col4">4</div>
                <div class="col4">4</div>
            </div>

            <div class="row">
                <div class="col5">5</div>
                <div class="col5">5</div>
                <div class="col2">2</div>
            </div>

            <div class="row">
                <div class="col6">6</div>
                <div class="col6">6</div>
            </div>

            <div class="row">
                <div class="col7">7</div>
                <div class="col5">5</div>
            </div>

            <div class="row">
                <div class="col8">8</div>
                <div class="col4">4</div>
            </div>

            <div class="row">
                <div class="col9">9</div>
                <div class="col3">3</div>
            </div>

            <div class="row">
                <div class="col10">10</div>
                <div class="col2">2</div>
            </div>

            <div class="row">
                <div class="col11">11</div>
                <div class="col1">1</div>
            </div>

            <div class="row">
                <div class="col12">12</div>
            </div>
        </div>
    </body>
</html>
Jalankan kode HTML di atas, untuk melihat hasil seperti pada gambar Grid, dari 1 Grid sampai gabungan 12 Grid.

Sumber: bertzzie.com
“Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka baginya pahala seperti pahala orang yang melakukannya.” (HR. Muslim: 1893)
Sebarkan jika Bermanfaat, Klik Tombol di bawah ini ^_^

Tuesday, January 23, 2018

Blogger

Sirah Nabawiyah 02 (Ar-Rahiqul Makhtum/ Syaikh Shafiyyur-Rahman Al-Mubarakfury)





KEKUASAAN DAN IMARAH DI KALANGAN BANGSA ARAB

Selagi kita hendak membicarakan masalah kekuasaan di kalangan Bangsa Arab sebelum Islam, berarti kita harus membuat miniatur sejarah pemerintahan, imarah (keemiratan), agama dan kepercayaan di kalangan Bangsa Arab, agar lebih mudah bagi kita untuk memahami kondisi yang tengah bergejolak saat kemunculan Islam.

Para penguasa jazirah tatkala terbitnya matahari Islam, bisa dibagi menjadi dua kelompok:

Raja-raja yang mempunyai mahkota, tetapi pada hakikatnya mereka tidak memiliki independensi dan berdiri sendiri

Para pemimpin dan pemuka kabilah atau suku, yang memiliki kekuasaan dan hak-hak istimewa seperti kekuasaan para raja. Mayoritas di antara mereka memiliki independensi. Bahkan boleh jadi sebagian diantara mereka mempunyai subordinasi layaknya seorang raja yang mengenakan mahkota.

Raja-raja yang memiliki mahkota adalah raja-raja Yaman, raja-raja kawasan Syam, Ghassan dan Hirah. Sedangkan penguasa-penguasa lainnya di jazirah Arab tidak memiliki mahkota.

Raja-raja di Yaman

Suku bangsa tertua yang dikenal di Yaman adalah kaum Saba'. Mereka bisa diketahui lewat penemuan fosil Aur, yang hidup dua puluh abad Sebelum Masehi (SM). Puncak peradaban dan pengaruh kekuasaan mereka dimulai pada tahun sebelas SM.

Klasifikasi periodisasi kekuasaan mereka dapat diperkirakan sebagai berikut :

Antara tahun 1300 SM hingga 620 SM ; pada periode ini dinasti mereka dikenal dengan dinasti al-Mu'iniah, sedangkan raja-raja mereka dijuluki sebagai "Mukrib Saba'", dengan ibukotanya Sharwah. Puing-puing peninggalan mereka dapat ditemui sekitar jarak 50 km ke arah barat laut dari negeri Ma'rib, dan dari jarak 142 km arah timur kota Shan'a' yang dikenal dengan sebutan Kharibah.

Pada periode merekalah dimulainya pembangunan bendungan, yang dikenal dengan nama bendungan Ma'rib, yang memiliki peran tersendiri dalam sejarah Yaman. Ada yang mengatakan, wilayah kekuasaan kaum Saba' ini meliputi daerah-daerah jajahan didalam dan luar negeri Arab.
Antara tahun 620 SM hingga 115 SM ; Pada periode ini dinasti mereka dikenal dengan dinasti Saba', dan mereka menanggalkan julukan "Mukrib" alias hanya dikenal dengan raja-raja Saba' dengan menjadikan Ma'rib sebagai ibukota, sebagai ganti dari Sharwah.Puing-puing kota ini dapat ditemui sejauh 192 km dari arah timur Shan'a'.

Sejak tahun 115 SM hingga tahun 300 M ; Pada periode ini dinasti mereka dikenal dengan dinasti al-Himyariyyah I, sebab kabilah Himyar telah memisahkan diri dari kerajaan Saba', dan menjadikan kota Raidan sebagai ibukotanya, menggantikan Ma'rib. Kota Raidan dikenal kemudian dengan nama Zhaffar. Puing-puing peninggalannya dapat ditemukan di sebuah bukit yang memutar dekat Yarim.

Pada periode ini mereka mulai melemah dan jatuh, serta mengalami kerugian besar dalam perdagangan yang mereka lakukan. Diantara penyebabnya adalah beberapa factor ;
pertama, dikuasainya kawasan utara Hijaz. Kedua, berhasilnya Bangsa Romawi menguasai jalur perdagangan laut setelah sebelumnya mereka menancapkan kekuasaan mereka di Mesir, Syria dan bagian utara kawasan Hijaz. Ketiga, adanya persaingan antar masing-masing kabilah . Faktor-faktor inilah yang menyebabkan berpencarnya keluarga besar suku ahthan dan hijrahnya mereka ke negeri-negei yang jauh.

Sejak tahun 300 M hingga masuknya Islam ke Yaman ; Pada periode ini dinasti mereka dikenal dengan dinasti al-Himyariyyah II dan kondisi yang mereka alami penuh dengan kerusuhan-kerusuhan dan kekacauan, eruntunnya peristiwa kudeta, serta timbulnya perang keluarga yang mengakibatkan mereka menjadi santapan kekuatan asing yang selalu mengintai hingga hal itu kemudian mengakhiri kemerdekaan yang mereka pernah renggut. Begitu juga, pada periode ini Bangsa Romawi berhasil memasuki kota 'Adn serta atas bantuan mereka, untuk pertama kalinya orang-orang Habasyah berhasil menduduki negeri Yaman, yaitu tahun 340 M. Hal itu dapat mereka lakukan berkat persaingan yang terjadi antara dua kabilah; Hamadan dan Himyar. Pendudukan mereka berlangsung hingga tahun 378 M. Kemudian negeri Yaman memperoleh kemerdekaannya akan tetapi kemudian bendungan Ma'rib jebol hingga mengakibatkan banjir besar seperti yang disebutkan oleh Al-Qur'an dengan istilah Sailul 'Arim pada tahun 450 atau 451 M. Itulah peristiwa besar yang  berkesudahan dengan lenyapnya peradaban dan bercerai berainya suku bangsa mereka.

Pada tahun 523 M, Dzu Nawwas, seorang Yahudi memimpin pasukannya menyerang
orang-orang Nasrani dari penduduk Najran, dan berusaha memaksa mereka meninggalkan agama nasrani. Karena mereka menolak, maka dia membuat parit-parit
besar yang di dalamnya api yang menyala, lalu mereka dilemparkan ke dalam api tersebut hidup-hidup, sebagaimana yang diisyaratkan oleh AlQur'an dalam surat al-Buruj. Kejadian ini membakar dendam di hati orang-orang Nasrani dan mendorong mereka untuk memperluas daerah kekuasaan dan penaklukan terhadap negeri Arab dibawah kemando imperium Romawi. Mereka bekerja sama dengan orang-orang Habasyah yang sebelumnya telah mereka provokasi dan menyiapkan armada laut buat mereka sehingga bergabunglah sebanyak 70.000 personil tentara dari mereka. Mereka untuk kedua kalinya berhasil menduduki negeri Yaman dibawah komando Aryath pada tahun 525 M. Dia menjadi penguasa di sana atas penunjukan dari raja Habasyah hingga kemudian dia dibunuh oleh Abrahah bin ash-Shabbah al-Asyram, anak buahnya sendiri pada tahun 549 M, dan selanjutnya dia berhasil menggantikan Aryath setelah meminta restu raja Habasyah. Abrahah inilah yang mengerahkan pasukannya untuk menghancurkan Ka'bah. Dalam sejarah dia dan pasukannya dikenal dengan pasukan penunggang gajah (ashhabul fil). Sepulangnya dari sana menuju Shan'a', dia mati dan digantikan oleh kedua anaknya yang kedua-duanya ketika menjadi penguasa lebih otoriter dan sadis dari orangtuanya.

Setelah peristiwa "gajah" tersebut, penduduk Yaman meminta bantuan kepada orangorang Persi untuk menghadang serangan pasukan Habasyah dan kerjasama ini berhasil sehingga mereka akhirnya dapat mengusir orang-orang Habasyah dari negeri Yaman. Mereka memperoleh kemerdekaan pada tahun 575 M, berkat jasa seorang panglima yang bernama Ma'di Yakrib bin Saif Dzi Yazin al-Himyari yang kemudian mereka angkat menjadi raja mereka. Meskipun begitu, Ma'di Yakrib masih mempertahankan sejumlah orang-orang Habasyah sebagai pengawal yang selalu menyertainya dalam perjalanannya. Hal itu justru menjadi bumerang baginya, maka pada suatu hari mereka berhasil membunuhnya. Dengan kematiannya berakhirlah dinasti raja dari keluarga besar Dzi Yazin. Setelah itu Kisra mengangkat penguasa dari Bangsa Persia sendiri di Shan'a', dan menjadikan Yaman sebagai salah satu wilayah konfederasi kekisraan Persia. Kemudian hal itu terus berlanjut hingga era kekisraan terakhir yang dipimpin oleh Badzan, yang memeluk Islam pada tahun 638 M. Dengan keislamannya ini berakhirlah kekuasaan kekisraan Persia atas negeri Yaman *.


* Lihat rinciannya pada buku "al-Yaman 'abrat Tarikh" , hal. 77, 83, 124, 130, 157, 161, dst ; "Tarikh ardhil Quran", Juz I, dari hal. 133 hingga akhir buku ini; "Tarikhul 'Arab Qablal Islam", hal. 101-151 ; dalam menentukan tahun-tahun peristiwa tersebut terjadi perbedaaan yang amat signifikan antara referensi-referensi sejarah. Bahkan sebagian penulis mengomentari tentang rincian tersebut, dengan mengutip firman Allah : "AlQuran ini tidak lain hanyalah dongengan orang-orang dahulu".



Bersambung ke : Sirah Nabawiyah 03

Sumber: Kitab Ar-Rahiqul Makhtum (Syaikh Shafiyyur-Rahman Al-Mubarakfury)

“Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka baginya pahala seperti pahala orang yang melakukannya.” (HR. Muslim: 1893)
Sebarkan jika Bermanfaat, Klik Tombol di bawah ini ^_^

Monday, January 22, 2018

Blogger

Singkap Tabir Masuknya Islam ke Indonesia (2)


Sejarahwan T. W. Arnold dalam karyanya “The Preaching of Islam” (1968) juga menguatkan temuan bahwa agama Islam telah dibawa oleh mubaligh-mubaligh Islam asal jazirah Arab ke Nusantara sejak awal abad ke-7 M.
Setelah abad ke-7 M, Islam mulai berkembang di kawasan ini, misal, menurut laporan sejarah negeri Tiongkok bahwa pada tahun 977 M, seorang duta Islam bernama Pu Ali (Abu Ali) diketahui telah mengunjungi negeri Tiongkok mewakili sebuah negeri di Nusantara(F. Hirth dan W. W. Rockhill (terj), Chau Ju Kua, His Work On Chinese and Arab Trade in XII Centuries, St.Petersburg: Paragon Book, 1966, hal. 159).
Bukti lainnya, di daerah Leran, Gresik, Jawa Timur, sebuah batu nisan kepunyaan seorang Muslimah bernama Fatimah binti Maimun bertanggal tahun 1082 telah ditemukan. Penemuan ini membuktikan bahwa Islam telah merambah Jawa Timur di abad ke-11 M (S. Q. Fatini, Islam Comes to Malaysia, Singapura: M. S. R.I., 1963, hal. 39).
Dari bukti-bukti di atas, dapat dipastikan bahwa Islam telah masuk ke Nusantara pada masa Rasulullah masih hidup. Secara ringkas dapat dipaparkan sebagai berikut: Rasululah menerima wahyu pertama di tahun 610 M, dua setengah tahun kemudian menerima wahyu kedua (kuartal pertama tahun 613 M), lalu tiga tahun lamanya berdakwah secara diam-diam—periode Arqam bin Abil Arqam (sampai sekitar kuartal pertama tahun 616 M), setelah itu baru melakukan dakwah secara terbuka dari Makkah ke seluruh Jazirah Arab.
Menurut literatur kuno Tiongkok, sekitar tahun 625 M telah ada sebuah perkampungan Arab Islam di pesisir Sumatera (Barus). Jadi hanya 9 tahun sejak Rasulullah SAW memproklamirkan dakwah Islam secara terbuka, di pesisir Sumatera sudah terdapat sebuah perkampungan Islam.
Selaras dengan zamannya, saat itu umat Islam belum memiliki mushaf Al-Qur’an, karena mushaf Al-Qur’an baru selesai dibukukan pada zaman Khalif Utsman bin Affan pada tahun 30 H atau 651 M. Naskah Qur’an pertama kali hanya dibuat tujuh buah yang kemudian oleh Khalif Utsman dikirim ke pusat-pusat kekuasaan kaum Muslimin yang dipandang penting yakni (1) Makkah, (2) Damaskus, (3) San’a di Yaman, (4) Bahrain, (5) Basrah, (6) Kuffah, dan (7) yang terakhir dipegang sendiri oleh Khalif Utsman.
Naskah Qur’an yang tujuh itu dibubuhi cap kekhalifahan dan menjadi dasar bagi semua pihak yang berkeinginan menulis ulang. Naskah-naskah tua dari zaman Khalifah Utsman bin Affan itu masih bisa dijumpai dan tersimpan pada berbagai museum dunia. Sebuah di antaranya tersimpan pada Museum di Tashkent, Asia Tengah.
Mengingat bekas-bekas darah pada lembaran-lembaran naskah tua itu maka pihak-pihak kepurbakalaan memastikan bahwa naskah Qur’an itu merupakan al-Mushaf yang tengah dibaca Khalif Utsman sewaktu mendadak kaum perusuh di Ibukota menyerbu gedung kediamannya dan membunuh sang Khalifah.
Perjanjian Versailes (Versailes Treaty), yaitu perjanjian damai yang diikat pihak Sekutu dengan Jerman pada akhir Perang Dunia I, di dalam pasal 246 mencantumkan sebuah ketentuan mengenai naskah tua peninggalan Khalifah Ustman bin Affan itu yang berbunyi: (246) Di dalam tempo enam bulan sesudah Perjanjian sekarang ini memperoleh kekuatannya, pihak Jerman menyerahkan kepada Yang Mulia Raja Hejaz naskah asli Al-Qur’an dari masa Khalif Utsman, yang diangkut dari Madinah oleh pembesar-pembesar Turki, dan menurut keterangan, telah dihadiahkan kepada bekas Kaisar William II (Joesoef Sou’yb, Sejarah Khulafaur Rasyidin, Bulan Bintang, cet. 1, 1979, hal. 390-391).
Sebab itu, cara berdoa dan beribadah lainnya pada saat itu diyakini berdasarkan ingatan para pedagang Arab Islam yang juga termasuk para al-Huffadz atau penghapal al-Qur’an.
Menengok catatan sejarah, pada seperempat abad ke-7 M, kerajaan Budha Sriwijaya tengah berkuasa atas Sumatera. Untuk bisa mendirikan sebuah perkampungan yang berbeda dari agama resmi kerajaan, perkampungan Arab Islam tentu membutuhkan waktu bertahun-tahun sebelum diizinkan penguasa atau raja. Harus bersosialisasi dengan baik dulu kepada penguasa, hingga akrab dan dipercaya oleh kalangan kerajaan maupun rakyat sekitar, menambah populasi Muslim di wilayah yang sama yang berarti para pedagang Arab ini melakukan pembauran dengan jalan menikahi perempuan-perempuan pribumi dan memiliki anak, setelah semua syarat itu terpenuhi baru mereka para pedagang Arab Islam ini bisa mendirikan sebuah kampung di mana nilai-nilai Islam bisa hidup di bawah kekuasaan kerajaan Budha Sriwijaya.
Perjalanan dari Sumatera sampai ke Makkah pada abad itu, dengan mempergunakan kapal laut dan transit dulu di Tanjung Comorin, India, konon memakan waktu dua setengah sampai hampir tiga tahun. Jika tahun 625 dikurangi 2, 5 tahun, maka yang didapat adalah tahun 622 Masehi lebih enam bulan. Untuk melengkapi semua syarat mendirikan sebuah perkampungan Islam seperti yang telah disinggung di atas, setidaknya memerlukan waktu selama 5 hingga 10 tahun.
Jika ini yang terjadi, maka sesungguhnya para pedagang Arab yang mula-mula membawa Islam masuk ke Nusantara adalah orang-orang Arab Islam generasi pertama para shahabat Rasulullah, segenerasi dengan Ali bin Abi Thalib r. A..
Kenyataan inilah yang membuat sejarawan Ahmad Mansyur Suryanegara sangat yakin bahwa Islam masuk ke Nusantara pada saat Rasulullah masih hidup di Makkah dan Madinah. Bahkan Mansyur Suryanegara lebih berani lagi dengan menegaskan bahwa sebelum Muhammad diangkat menjadi Rasul, saat masih memimpin kabilah dagang kepunyaan Khadijah ke Syam dan dikenal sebagai seorang pemuda Arab yang berasal dari keluarga bangsawan Quraisy yang jujur, rendah hati, amanah, kuat, dan cerdas, di sinilah ia bertemu dengan para pedagang dari Nusantara yang juga telah menjangkau negeri Syam untuk berniaga.
“Sebab itu, ketika Muhammad diangkat menjadi Rasul dan mendakwahkan Islam, maka para pedagang di Nusantara sudah mengenal beliau dengan baik dan dengan cepat dan tangan terbuka menerima dakwah beliau itu, ” ujar Mansyur yakin.
Dalam literatur kuno asal Tiongkok tersebut, orang-orang Arab disebut sebagai orang-orang Ta Shih, sedang Amirul Mukminin disebut sebagai Tan mi mo ni’. Disebutkan bahwa duta Tan mi mo ni’, utusan Khalifah, telah hadir di Nusantara pada tahun 651 Masehi atau 31 Hijriah dan menceritakan bahwa mereka telah mendirikan Daulah Islamiyah dengan telah tiga kali berganti kepemimpinan. Dengan demikian, duta Muslim itu datang ke Nusantara di perkampungan Islam di pesisir pantai Sumatera pada saat kepemimpinan Khalifah Utsman bin Affan (644-656 M). Hanya berselang duapuluh tahun setelah Rasulullah SAW wafat (632 M).
Catatan-catatan kuno itu juga memaparkan bahwa para peziarah Budha dari Cina sering menumpang kapal-kapal ekspedisi milik orang-orang Arab sejak menjelang abad ke-7 Masehi untuk mengunjungi India dengan singgah di Malaka yang menjadi wilayah kerajaan Budha Sriwijaya.
Gujarat Sekadar Tempat Singgah
Jelas, Islam di Nusantara termasuk generasi Islam pertama. Inilah yang oleh banyak sejarawan dikenal sebagai Teori Makkah. Jadi Islam di Nusantara ini sebenarnya bukan berasal dari para pedagang India (Gujarat) atau yang dikenal sebagai Teori Gujarat yang berasal dari Snouck Hurgronje, karena para pedagang yang datang dari India, mereka ini sebenarnya berasal dari Jazirah Arab, lalu dalam perjalanan melayari lautan menuju Sumatera (Kutaraja atau Banda Aceh sekarang ini) mereka singgah dulu di India yang daratannya merupakan sebuah tanjung besar (Tanjung Comorin) yang menjorok ke tengah Samudera Hindia dan nyaris tepat berada di tengah antara Jazirah Arab dengan Sumatera.

Bukalah atlas Asia Selatan, kita akan bisa memahami mengapa para pedagang dari Jazirah Arab menjadikan India sebagai tempat transit yang sangat strategis sebelum meneruskan perjalanan ke Sumatera maupun yang meneruskan ekspedisi ke Kanton di Cina. Setelah singgah di India beberapa lama, pedagang Arab ini terus berlayar ke Banda Aceh, Barus, terus menyusuri pesisir Barat Sumatera, atau juga ada yang ke Malaka dan terus ke berbagai pusat-pusat perdagangan di daerah ini hingga pusat Kerajaan Budha Sriwijaya di selatan Sumatera (sekitar Palembang), lalu mereka ada pula yang melanjutkan ekspedisi ke Cina atau Jawa.
Disebabkan letaknya yang sangat strategis, selain Barus, Banda Aceh ini telah dikenal sejak zaman dahulu. Rute pelayaran perniagaan dari Makkah dan India menuju Malaka, pertama-tama diyakini bersinggungan dahulu dengan Banda Aceh, baru menyusuri pesisir barat Sumatera menuju Barus. Dengan demikian, bukan hal yang aneh jika Banda Aceh inilah yang pertama kali disinari cahaya Islam yang dibawa oleh para pedagang Arab. Sebab itu, Banda Aceh sampai sekarang dikenal dengan sebutan Serambi Makkah

Sumber: eramuslim.com
“Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka baginya pahala seperti pahala orang yang melakukannya.” (HR. Muslim: 1893)
Sebarkan jika Bermanfaat, Klik Tombol di bawah ini ^_^

Sunday, January 21, 2018

Blogger

Singkap Tabir Masuknya Islam ke Indonesia (1)


Terdapat perbedaan pendapat dalam menyingkap tabir masuknya Islam ke tanah Indonesia. Setidaknya terdapat tiga teori atau pendapat yang  cukup populer mengenai hal tersebut. 
1.    Pendapat pertama yang diusung oleh Snouck Hurgronje menjelaskan, Islam masuk ke Indonesia dari wilayah-wilayah di anak benua India. Daerah Gujarat, Bengali, dan Malabar merupakan asal masuknya Islam di Nusantara. Teori tersebut didasarkan pada pengamatan tidak terlihatnya peran dan nilai-nilai Arab yang ada dalam Islam pada masa-masa awal yaitu pada abad 12 dan 13 M.
Namun tahukah Anda bahwa Teori ini berasal dari seorang orientalis asal Belanda yang seluruh hidupnya didedikasikan untuk menghancurkan Islam? Orientalis ini bernama Snouck Hurgronje, yang demi mencapai tujuannya, ia mempelajari bahasa Arab dengan sangat giat, mengaku sebagai seorang Muslim, dan bahkan mengawini seorang Muslimah, anak seorang tokoh di zamannya.
2.    Pendapat kedua menyebutkan, Islam masuk ke Indonesia dari Persia (Iran) pada abad ke 13 M. Sesuai dengan bukti-bukti sejarah adanya beberapa bentuk upacara simbolik keagamaan seperti pada peringatan 10 Muharram sebagai hari peringatan wafatnya Hasan dan Husein, cucu Rasulullah Saw, di beberapa tempat di Sumatra (Pariaman, Sumatra Barat). teori ini dipelolori oleh sejarawan asal banten Pangeran Ario Hussein Jayadiningrat. yang juga murid dari Snouck Hurgronje dan merupakan adik dari Pangeran Aria Achmad Djajadiningrat, yang meneruskan jejak ayahnya menjadi bupati di Serang.
3.   Berbeda dengan pendapat pertama dan kedua, pendapat ketiga mengungkapkan, Islam datang langsung dari Arab pada abad ke 7 M. Islam masuk ke Indonesia pada masa abad pertama Hijriah bahkan pada masa Khulafaur Rasyiddin. Islam Ekspedisi ke Indonesia telah dilakukan pada masa Abu Bakar Ash Shidiq dan dilanjutkan oleh khalifah-khalifah setelahnya. Dalam sumber-sumber literatur Cina menyebutkan bahwa menjelang seperempat abad ke 7M, sudah berdiri perkampungan Arab Muslim di pesisir pantai Sumatra. Teori ini diperkenalan oleh Prof. Dr. Haji Abdul Malik bin Dr. Haji Abdul Karim Amrullah (HAMKA) dan di perkuat oleh Prof. Ahmad Mansur Suryanegara 

Manakah teori atau pendapat yang sebenarnya?
Menurut sejumlah pakar sejarah dan juga arkeolog, jauh sebelum Nabi Muhammad SAW menerima wahyu, telah terjadi kontak dagang antara para pedagang Cina, Nusantara, dan Arab. Jalur perdagangan selatan ini sudah ramai saat itu.
Mengutip buku Gerilya Salib di Serambi Makkah (Rizki Ridyasmara, Pustaka Alkautsar, 2006) yang banyak memaparkan bukti-bukti sejarah soal masuknya Islam di Nusantara, Peter Bellwood, Reader in Archaeology di Australia National University, telah melakukan banyak penelitian arkeologis di Polynesia dan Asia Tenggara.
Bellwood menemukan bukti-bukti yang menunjukkan bahwa sebelum abad kelima masehi, yang berarti Nabi Muhammad SAW belum lahir, beberapa jalur perdagangan utama telah berkembang menghubungkan kepulauan Nusantara dengan Cina. Temuan beberapa tembikar Cina serta benda-benda perunggu dari zaman Dinasti Han dan zaman-zaman sesudahnya di selatan Sumatera dan di Jawa Timur membuktikan hal ini.
Dalam catatan kakinya Bellwood menulis, “Museum Nasional di Jakarta memiliki beberapa bejana keramik dari beberapa situs di Sumatera Utara. Selain itu, banyak barang perunggu Cina, yang beberapa di antaranya mungkin bertarikh akhir masa Dinasti Zhou (sebelum 221 SM), berada dalam koleksi pribadi di London. Benda-benda ini dilaporkan berasal dari kuburan di Lumajang, Jawa Timur, yang sudah sering dijarah…” Bellwood dengan ini hendak menyatakan bahwa sebelum tahun 221 SM, para pedagang pribumi diketahui telah melakukan hubungan dagang dengan para pedagang dari Cina.
Masih menurutnya, perdagangan pada zaman itu di Nusantara dilakukan antar sesama pedagang, tanpa ikut campurnya kerajaan, jika yang dimaksudkan kerajaan adalah pemerintahan dengan raja dan memiliki wilayah yang luas. Sebab kerajaan Budha Sriwijaya yang berpusat di selatan Sumatera baru didirikan pada tahun 607 Masehi (Wolters 1967; Hall 1967, 1985). Tapi bisa saja terjadi, “kerajaan-kerajaan kecil” yang tersebar di beberapa pesisir pantai sudah berdiri, walau yang terakhir ini tidak dijumpai catatannya.
Di Jawa, masa sebelum masehi juga tidak ada catatan tertulisnya. Pangeran Aji Saka sendiri baru “diketahui” memulai sistem penulisan huruf Jawi kuno berdasarkan pada tipologi huruf Hindustan pada masa antara 0 sampai 100 Masehi. Dalam periode ini di Kalimantan telah berdiri Kerajaan Hindu Kutai dan Kerajaan Langasuka di Kedah, Malaya. Tarumanegara di Jawa Barat baru berdiri tahun 400-an Masehi. Di Sumatera, agama Budha baru menyebar pada tahun 425 Masehi dan mencapai kejayaan pada masa Kerajaan Sriwijaya.
Temuan G. R Tibbets
Adanya jalur perdagangan utama dari Nusantara—terutama Sumatera dan Jawa—dengan Cina juga diakui oleh sejarahwan G. R. Tibbetts. Bahkan Tibbetts-lah orang yang dengan tekun meneliti hubungan perniagaan yang terjadi antara para pedagang dari Jazirah Arab dengan para pedagang dari wilayah Asia Tenggara pada zaman pra Islam. Tibbetts menemukan bukti-bukti adanya kontak dagang antara negeri Arab dengan Nusantara saat itu.
“Keadaan ini terjadi karena kepulauan Nusantara telah menjadi tempat persinggahan kapal-kapal pedagang Arab yang berlayar ke negeri Cina sejak abad kelima Masehi, ” tulis Tibbets. Jadi peta perdagangan saat itu terutama di selatan adalah Arab-Nusantara-China.
Sebuah dokumen kuno asal Tiongkok juga menyebutkan bahwa menjelang seperempat tahun 700 M atau sekitar tahun 625 M—hanya berbeda 15 tahun setelah Rasulullah menerima wahyu pertama atau sembilan setengah tahun setelah Rasulullah berdakwah terang-terangan kepada bangsa Ara di sebuah pesisir pantai Sumatera sudah ditemukan sebuah perkampungan Arab Muslim yang masih berada dalam kekuasaan wilayah Kerajaan Budha Sriwijaya.
Di perkampungan-perkampungan ini, orang-orang Arab bermukim dan telah melakukan asimilasi dengan penduduk pribumi dengan jalan menikahi perempuan-perempuan lokal secara damai. Mereka sudah beranak–pinak di sana. Dari perkampungan-perkampungan ini mulai didirikan tempat-tempat pengajian al-Qur’an dan pengajaran tentang Islam sebagai cikal bakal madrasah dan pesantren, umumnya juga merupakan tempat beribadah (masjid).
Temuan ini diperkuat Prof. Dr. HAMKA yang menyebut bahwa seorang pencatat sejarah Tiongkok yang mengembara pada tahun 674 M telah menemukan satu kelompok bangsa Arab yang membuat kampung dan berdiam di pesisir Barat Sumatera. Ini sebabnya, HAMKA menulis bahwa penemuan tersebut telah mengubah pandangan orang tentang sejarah masuknya agama Islam di Tanah Air. HAMKA juga menambahkan bahwa temuan ini telah diyakini kebenarannya oleh para pencatat sejarah dunia Islam di Princetown University di Amerika.
Pembalseman Firaun Ramses II Pakai Kapur Barus Dari Nusantara
Dari berbagai literatur, diyakini bahwa kampung Islam di daerah pesisir Barat Pulau Sumatera itu bernama Barus atau yang juga disebut Fansur. Kampung kecil ini merupakan sebuah kampung kuno yang berada di antara kota Singkil dan Sibolga, sekitar 414 kilometer selatan Medan. Di zaman Sriwijaya, kota Barus masuk dalam wilayahnya. Namun ketika Sriwijaya mengalami kemunduran dan digantikan oleh Kerajaan Aceh Darussalam, Barus pun masuk dalam wilayah Aceh.
Amat mungkin Barus merupakan kota tertua di Indonesia mengingat dari seluruh kota di Nusantara, hanya Barus yang namanya sudah disebut-sebut sejak awal Masehi oleh literatur-literatur Arab, India, Tamil, Yunani, Syiria, Armenia, China, dan sebagainya.
Sebuah peta kuno yang dibuat oleh Claudius Ptolomeus, salah seorang Gubernur Kerajaan Yunani yang berpusat di Aleksandria Mesir, pada abad ke-2 Masehi, juga telah menyebutkan bahwa di pesisir barat Sumatera terdapat sebuah bandar niaga bernama Barousai (Barus) yang dikenal menghasilkan wewangian dari kapur barus.
Bahkan dikisahkan pula bahwa kapur barus yang diolah dari kayu kamfer dari kota itu telah dibawa ke Mesir untuk dipergunakan bagi pembalseman mayat pada zaman kekuasaan Firaun sejak Ramses II atau sekitar 5. 000 tahun sebelum Masehi!

Berdasakan buku Nuchbatuddar karya Addimasqi, Barus juga dikenal sebagai daerah awal masuknya agama Islam di Nusantara sekitar abad ke-7 Masehi. Sebuah makam kuno di kompleks pemakaman Mahligai, Barus, di batu nisannya tertulis Syekh Rukunuddin wafat tahun 672 Masehi. Ini memperkuat dugaan bahwa komunitas Muslim di Barus sudah ada pada era itu.
Sebuah Tim Arkeolog yang berasal dari Ecole Francaise D’extreme-Orient (EFEO) Perancis yang bekerjasama dengan peneliti dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (PPAN) di Lobu Tua-Barus, telah menemukan bahwa pada sekitar abad 9-12 Masehi, Barus telah menjadi sebuah perkampungan multi-etnis dari berbagai suku bangsa seperti Arab, Aceh, India, China, Tamil, Jawa, Batak, Minangkabau, Bugis, Bengkulu, dan sebagainya.
Tim tersebut menemukan banyak benda-benda berkualitas tinggi yang usianya sudah ratusan tahun dan ini menandakan dahulu kala kehidupan di Barus itu sangatlah makmur.
Di Barus dan sekitarnya, banyak pedagang Islam yang terdiri dari orang Arab, Aceh, dan sebagainya hidup dengan berkecukupan. Mereka memiliki kedudukan baik dan pengaruh cukup besar di dalam masyarakat maupun pemerintah (Kerajaan Budha Sriwijaya). Bahkan kemudian ada juga yang ikut berkuasa di sejumlah bandar. Mereka banyak yang bersahabat, juga berkeluarga dengan raja, adipati, atau pembesar-pembesar Sriwijaya lainnya. Mereka sering pula menjadi penasehat raja, adipati, atau penguasa setempat. Makin lama makin banyak pula penduduk setempat yang memeluk Islam. Bahkan ada pula raja, adipati, atau penguasa setempat yang akhirnya masuk Islam. Tentunya dengan jalan damai

Bersambung ke Singkap Tabir Masuknya Islam ke Indonesia (2)

Sumber: eramuslim.com
“Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka baginya pahala seperti pahala orang yang melakukannya.” (HR. Muslim: 1893)
Sebarkan jika Bermanfaat, Klik Tombol di bawah ini ^_^

Cara-Cara Menghasilan Uang dari YouTube dengan Mudah

Saat ini, menghasilkan uang dari internet bukanlah hal yang mustahil. Salah satu cara mendapatkan uang tersebut adalah lewat YouTube. Cara m...