Selamat datang, bacalah selalu "Basmalah" sebelum membacanya, semoga bisa menambah pengetahuan bagi kita semua
Blogger

This is Kalimah Tayyab

Laaa Ilaaha Illa-llaahu Muhammadur-Rasoolu-llaah

There is none worthy of worship except Allah and Muhammad is the Messenger of Allah

Blogger

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Blogger

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Blogger

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Blogger

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Showing posts with label biografi. Show all posts
Showing posts with label biografi. Show all posts

Saturday, March 17, 2018

Blogger

Benarkah Nabi Ibrahim, Abraham, Brahma, Rama, Sosok Yang Sama..?


Sampai saat ini, banyak sejarawan terus berusaha membuka tabir kebenaran tentang asal usul Ibrahim atau Abraham, apakah dia sosok yang sama dengan Brahma dari India? Beberapa bukti ditulis Gene D Matlock B.A., M.A. dalam paper berjudul 'Who Was Abraham', karya ini mengundang berbagai perdebatan dikalangan sejarawan meskipun bukti yang dilampirkannya sangat mendekati kebenaran.

Gene D Matlock, seorang yang bergelar BA, mulai terkenal karena buku-buku yang ditulisnya tentang sejarah agama dan ras non-Africanoid. Dia mengklaim telah membuat beberapa penemuan besar dimana India pernah menguasai seluruh dunia, juga orang-orang Indian Amerika merupakan imigran beberapa ratus tahun sebelum kedatangan orang Eropa. Salah satu bukunya yang terkenal adalah 'Jesus and Moses Are Buried in India, Birthplace of Abraham and the Hebrews' dan 'What Strange Mystery Unites the Turkish Nations, India, Catholicism, and Mexico?: A Concise But Detailed History of Things Divine and Earthly'. Buku ini telah mempopulerkan namanya diawal tahun 2000-an, dan kemudian menerbitkan sebuah tulisan tentang Abraham tahun 2012 lalu.

Ibrahim, Abraham Adalah Brahma

Dalam paper yang ditulis Matlock, dia memulai awal pembicaraan tentang seorang sarjana keturunan Yahudi dan teolog Flavius Josephus yang hidup antara tahun 37 hingga 100 M. Teolog ini menulis dalam teksnya tentang seorang filsuf Yunani bernama Aristoteles yang mengatakan: 
 "...orang-orang Yahudi ini berasal dari filsuf India, mereka diberi nama oleh orang India Calani" (Book I: 22)Begitu pula Clearchus dari Soli menuliskan: "...orang-orang Yahudi keturunan dari filsuf India. Para filsuf disebut India Calani dan di Suriah Yahudi. Dalam buku Anacalypsis karya Godfrey Higgins, Vol I: hal 400 dituliskan nama ibukota mereka sangat sulit diucapkan, kota ini disebut Yerusalem""Megasthenes, yang dikirim ke India oleh Nikator Seleucid sekitar tiga ratus tahun sebelum kedatangan Isa, dan yang catatan dari pertanyaan itu setiap hari bertambah, mengatakan bahwa orang-orang Yahudi berasal dari suku India atau sekte yang disebut Kalani..." 

Martin Haug PhD pernah menulis dalam buku yang berjudul 'The Sacred Language, Writings, and Religions of the Parsis' disebutkan bahwa orang-orang Majus dikatakan telah menyebut agama mereka Kesh-i-Ibrahim. Mereka menelusuri buku-buku agama merujuk kepada Abraham yang diyakini telah membawa mereka dari surga. Beberapa kesamaan terlihat antara Dewa Hindu Brahma dan istrinya Saraisvati mirip dengan Ibrahim dan Sarah. Menurut Matlock, kesamaan ini lebih dari sekadar kebetulan meskipun diseluruh wilayah India hanya ada satu kuil yang didedikasikan untuk Brahma, sekte ini disebut-sebut sebagai sekte Hindu terbesar ketiga. 

Dalam sebuah buku karya Tomas Doreste berjudul 'Moises Y Los Extraterrestres', menuliskan bahwa Voltaire berpendapat bahwa Abraham (Ibrahim) berasal dari beberapa imam Brahman yang meninggalkan India untuk menyebarkan ajaran mereka diseluruh dunia. Dalam mendukung mendukung tesisnya, dia menyajikan unsur-unsur yang memiliki kesamaan nama dan fakta bahwa kota Ur sebagai tanah leluhur, kota ini berdekatan dengan perbatasan Persia menuju ke India, dimana Brahman disebutkan telah lahir di kota ini.

Pengaruh Brahma menyebar ke seluruh Persia hingga mencapai sungai Efrat dan Tigris, orang Persia mulai mengadopsi Brahma dan membuat kisahnya sendiri, kemudian mengatakan bahwa Tuhan telah tiba dari Bactria, sebuah daerah pegunungan yang terletak di tengah-tengah perjalan menuju India. Pada saat itu, Bactria merupakan wilayah Afghanistan kuno dan merupakan wilayah bangsa Yahudi prototipikal yang disebut Juhuda atau Jaguda, atau disebut juga Ur-Jaguda. Ur artinya 'tempat atau kota' sehingga Alkitab menyatakan bahwa Abraham ataupun Ibrahim berasal dari Ur-Kasdim. Kasdim, atau lebih tepatnya Kaul-Deva (Kauls Suci) bukan nama etnis tertentu, tetapi merupakan sebuah titel kasta imam kuno Hindu Brahman yang tinggal diwilayah yang sekarang disebut Afghanistan, Pakistan, dan negara bagian India Kashmir.

Dalam catatan 'Anacalypsis Vol I halaman 405' disebutkan bahwa suku Ioud atau Brahmana telah diusir atau meninggalkan Maturea, sebuah kerajaan Oude di India dan menetap di Goshen, atau Heliopolis di Mesir, dia memberi nama tempat yang ditinggalkan sebagai Maturea. Dia berasal dari agama atau sekte Persia dan Melkisedek. Orang Persia juga mengklaim Ibrahim, yang juga disebut Abraham, sebagai ayah mereka dan orang Yahudi. Menurut semua sejarah Persia kuno, Yahudi dan Arab merupakan keturunan Abraham. 

Terah (ayah Abraham) awalnya berasal dari negara Timur yang disebut Ur, Kasdim atau Culdees, dia hidup didaerah yang disebut Mesopotamia. Beberapa saat setelah ayahnya tinggal disana, Abraham, atau Abram, Ibrahim, atau Brahma, dan istrinya Sara atau Sarai ataupun Sara-iswati, meninggalkan keluarga ayah mereka dan kemudian datang ke Kanaan. Identitas Ibrahim dan Sarah (Brahma dan Saraiswati) pertama kali ditunjukkan oleh para misionaris Jesuit.



Sementara dalam mitologi Hindu, Sarai-Svati merupakan adik Brahma, dimana Alkitab juga memberi dua cerita tentang Abraham. Dalam versi pertama, Abraham mengatakan kepada Firaun bahwa dia berbohong ketika memperkenalkan Sarai sebagai adiknya. Versi kedua, Abraham mengatakan kepada Raja Gerar bahwa Sarai adalah adiknya. Tetapi ketika raja memarahinya karena berbohong, Abraham mengatakan bahwa Sarai adalah istri dan adiknya (Genesis 20:12).

"Dalam The Hindu History disebutkan; Uttara Kuru di Afghanistan Utara merupakan pusat pembelajaran, wanita India pergi ke sana untuk mempelajari dan menerima gelar Vak, yaitu Saraisvati. Hal ini diyakini bahwa Brahm, gurunya, begitu terkesan dengan kecantikannya, pendidikan, dan kecerdasan yang kuat, dan dia menikahinya."

Di India, anak Sungai Saraisvati disebut Ghaggar, sungai lain dari sungai yang sama adalah Hakra. Dalam tradisi Yahudi, Hagar merupakan pembantu Sarai, literatur Islam menyebutnya sebagai putri Mesir. Maka, kesamaan Ghaggar, Hakra dan Hagar terlihat disini. Alkitab Kejadian 25: 17-18 juga menyatakan bahwa Ismail bin Hagar, dan keturunannya tinggal di India. Matlock juga mengatakan, nama Ishak dan Ismail berasal dari bahasa Sansekerta, dijelaskan bahwa nama Ishaak dalam bahasa Sansekerta disebut Ishakhu yang artinya teman Siwa. Ishmael dalam bahasa Sansekerta disebut Ish-Mahal, yang artinya Siwa Agung. Abraham diceritakan telah melalui banjir yang terjadi di India seperti yang tertulis dalam Yosua 24: 2-3. 

Kitab Kejadian menyebutkan beberapa keturunan selir Ketura, dalam teks literatur Islam mengklaim bahwa Ketura adalah nama lain dari Hagar. Mereka adalah Yoksan, Sheba, Dedan, Efir. Beberapa keturunan Nuh adalah Joktan, Sheba, Dedan, dan Ophir. Versi ini berbeda-beda, sehingga Matlock menduga bahwa para penulis Alkitab mencoba untuk menyatukan beberapa cabang berbeda dari Yudaisme.

Sekitar tahun 1900 SM, kultus Brahm dibawa ke Tengah dan Near East oleh beberapa kelompok India yang berbeda setelah hujan parah dan gempa yang memisahkan India Utara, bahkan mengubah sungai Indus dan Sarasvati. 

"Geografi klasik Strabo (Strabo's Geography, XV.I.19) mengisyaratkan bahwa penduduk berusaha meninggalkan India Barat Laut. Dalam catatan itu disebutkan, Aristobolus mengatakan bahwa ketika dia dikirim pada misi tertentu di India, dia melihat sebuah negara lebih dari seribu kota, berikut pedesaan yang telah sepi karena Indus telah meninggalkan tempat tidur yang tepat."

Dalam catatan 'Indic Ideas in the Graeco-Roman World' karya Subhash Kak disebutkan tentang pengeringan sungai Sarasvati sekitar tahun 1900 SM telah menyebabkan relokasi besar penduduk yang berpusat disekitar Sindhu dan lembah Sarasvati, bisa saja peristiwa ini menyebabkan migrasi ke arah barat dari India. Setelah waktu itu, elemen India mulai muncul diseluruh Asia Barat, Mesir, dan Yunani.

Kuttikhat Purushothama Chon, seorang sejarawan India meyakini Ibrahim diusir dari India dengan alasan bahwa bangsa Arya tidak bisa mengalahkan Asura, pedagang yang pernah memerintah di Lembah Indus, kota Harappa. Mereka menghabiskan waktu selama bertahun-tahun berjuang secara diam-diam melawan Asura, menghancurkan sistem besar seperti danau irigasi sehingga menyebabkan banjir yang merusak, dimana Ibrahim dan keluarganya menyingkir ke Asia Barat. Banjir ini tak hanya memaksa perpindahan Ibrahim, ulah suku Arya juga memaksa pedagang, pengrajin, dan orang terpelajar India melarikan diri ke Asia Barat.

Linguistik Abraham Terkait Brahma India

Matlock menegaskan, penyebutan Asura diberbagai wilayah hampir sama, diantaranya penyebutan Asyur (Inggris), Asirios (Spanyol), Asura atau Ashuras (India), Ashuriya, Asuriya (Sumeria dan Babilonia), Asir (Saudi), Ahura (Persia), Sura (Meksiko Tengah), dan masih banyak lagi daerah yang menyebut Asura dengan logat yang sama. Asura, mereka adalah orang-orang yang menyembah Surya atau Matahari. 

Dalam hal identifikasi Indo-Eropa, selama ini diungkapkan untuk menyebut orang India, dan India bukanlah bangsa. Mereka adalah Bharata, dan Bharata juga bukan bangsa melainkan kumpulan negara seperti Eropa. Sejarawan Arab berpendapat bahwa Brahma dan Abraham, nenek moyang mereka, adalah orang yang sama. Persia umumnya menyebut Abraham sebagai Ibrahim Zeradust, Cyrus menganggap agama orang Yahudi sama dengan mereka. Orang Hindu pasti berasal dari Abraham, atau Israel dari Brahma. 

Ram dan Abraham, mungkin orang yang sama, misalnya suku kata 'Ab' atau 'Ap' diartikan sebagai 'ayah' diwilayah Kashmir. Orang-orang Yahudi prototipikal menyebut Ab-Ram atau Ayah Ram. Dan kata Brahm berevolusi dari Ab-Ram, bukan sebaliknya. Kashmir menyebutnya Raham, juga berasal dari Ram, Ab-Raham adalah 'Kasih Ilahi'. Dalam bahasa Ibrani, Ram merupakan istilah bagi 'Pemimpin yang ditempatkan atau gubernur'. Menurut A.D Pusalker seorang sejarawan India, bahwa Ram masih hidup pada tahun 1950 SM yaitu sekitar waktu Abraham, Indo-Ibrani, dan Arya membuat migrasi terbesar dari India hingga ke Timur Tengah sejak Banjir Besar.

Menurut analisa Gene D Matlock, bahwa Ka'bah juga didedikasikan untuk Hindu, Allah Sang Pencipta, Brahma. Literatur Islam mengklaim Ka'bah didedikasikan Ibrahim (untuk rumah Allah), kata Ibrahim tidak lain merujuk pada kata Brahma, hal ini dibuktikan dengan jelas jika menyelidiki arti akar kedua kata. Abraham juga disebut-sebut sebagai salah satu dari para nabi tertua bangsa Semit, nama ini berasal dari dua kata Semit 'Ab' yang berarti 'Ayah' dan 'Raam atau Raham' yang artinya 'Agung'. Dalam kitab Kejadian, Abraham berarti 'Ragam', berasal dari bahasa Sansekerta dimana kata Brahma merupakan akar dari 'Brah' yang artinya 'Tumbuh atau berkembang'. Dewa Brahma disebutkan sebagai Ayah dari semua laki-laki dan semua Dewa, dari-Nya semua makhluk diciptakan, bahwa Abraham tidak lain adalah Ayah surgawi.



Menurut Akshoy Kumar Mazumdar dalam buku 'The Hindu History' disebutkan bahwa Brahm adalah pemimpin spiritual dari bangsa Arya. Arya (bukan hasil Yah) secara alami meyakini berhala, Alkitab mengatakan bahwa mereka membuatnya. Setelah melihat peningkatan penyembahan berhala dan agama berkontribusi terhadap kejatuhan lebih lanjut pada umat-Nya, Brahm mundur dari Aria dan kembali memeluk agama filsafat India kuno (Yah), meskipun sedang tenggelam dalam kejahatan ulah manusia. Dia memutuskan, bahwa manusia bisa menyelamatkan diri hanya dengan berurusan dengan apa yang nyata, bukan dibayangkan.

Dr Mazumdar pernah menuliskan bahwa penurunan moral terjadi sangat cepat. Para peramal dan orang bijak hidup terpisah dari masyarakat, mereka jarang menikah dan sebagian besar memberi kontemplasi religius. Masyarakat tanpa cahaya yang tepat, dunia menjadi kejam secara ekstrim. Pemerkosaan , perzinahan, pencurian, dan lainnya menjadi sangat umum. Sifat manusia liar, Brahma memutuskan untuk mereformasi dan regenerasi rakyat. Dia membuat orang bijak untuk menikah dan bergaul dengan manusia. Kebanyakan menolak untuk menikah, tapi sepertiga menyetujui. Brahm menikah dengan adiknya Saraisvati, guru ini dikenal sebagai prajapatis (nenek moyang).

"Dalam buku 'The Languages of Harappans' karya Maliti J Shendge disebutkan bahwa Asia Barat dan peradaban Lembah Indus adalah satu, tidak hanya membuktikan bahwa Harappa adalah Akkadia dan Sumeria, Shendge juga membuktikan bahwa 'Abraham tak lain adalah Adam' sebelum Hawa diciptakan dari salah satu tulang rusuknya."

Wilayah dari Tigris-Efrat ke Indus dan timur dihuni oleh bangsa Semit berbahasa Akkadia yang kemudian menyebut diri mereka sebagai Asshuraiu. Nama India mereka sebagaimana dijelaskan Rgveda adalah 'Asura' yang tak lama menghilang. Daerah ini dihuni oleh suku yang berbeda dari kisah yang sama, tetapi kebanyakan selalu menganggap bahwa mereka adalah kelompok homogen. Bukti linguistik menunjukkan adanya populasi campuran Akkadia dan Sumeria, kelompok etnis lain juga mungkin ada dan jejak sejarah terlihat diperiode selanjutnya. 

Ibrahim, Abraham, Brahma, Rama, Sosok Yang Sama

Jika orang Akkadia adalah sama dengan klan Asia Barat, seharusnya ada sesuatu yang dominan dalam mitologi Veda. Tetapi referensi masih samar, tidak ada referensi hubungan keduanya. Jika diamati, kata Brahman mengungkap asal bahasa yang terbentuk dari dua kata 'Abu dan Rahmu' yang berasal dari pasangan zaman purba dalam mitologi Semit. Akkadia menganggap Rahmu adalah Lahmu yang kemudian menjadi dewi Laksmi, lahir di laut dan dikenal oleh dewa dan roh jahat. Lahmu juga dianggap sebagai naga di Akkadia, tetapi dalam Ugaratic, Rahmu berhubungan dengan Abu Brahma, dimana Abu dan Rahmu diartikan sebagai Abrahma atau Brahma. 

Perubahan ini berdasarkan atas pasangan yang telah mengalami transformasi dan memiliki hubungan di India. Jadi klan Asura yang berada di lembah Indus memuja Abu-Rahmu sebagai pasangan pertama di muka Bumi (Adam dan Hawa). Penelitian Shendge memperkuat dugaan bahwa Abraham dan Sarai atau Ibrahim dan Sarah, mungkin adalah sosok yang sama dengan Brahm dan Saraisvati. Ibraham kami adalah seorang imam bahkan mungkin pendiri kultus Abu-Rahmu yang membawa agama monoteistik ke Asia Barat. 

Bukti linguistik tentang keberadaan Brahm dapat ditemukan diberbagai belahan dunia termasuk Persia (Braghman), Latin (Bragmani), Rusia (Rachmany), Ukrania (Rachmanya), Ibrani (Ram, pemimpin Tertinggi), Norwegia (Ilahi). Kalangan umat Hindu menyebut suku kata mistik OM terkait dengan bumi, langit, alam lain. OM juga merupakan nama Brahm, bangsa Aztec juga menyembah dan meneriakkan suku kata OM (OMeticuhlti dan OMelcihuatl). Kasta imam suku Maya menyebutnya Balam (B'lahm), juga bermakna Brahm, bangsa Inca menyembah matahari yang disebut Inti Raymi (Hindu Ram).

Tarahumara Indian Chihuahua berasal dari nama 'Ra-Ram-Uri' sama seperti Sumeria dan India Utara, kata 'Uri' diaratikan 'manusia'. Dewa matahari bangsa Ra-Ram-Uri adalah 'Ono-Ruame'. Pemimpin Ra-Ram-Uri disebut Si-Riame, dalam bahasa Sansekerta ataupun Kashmir, Su-Rama diartikan sebagai Rama Agung. Menurut legenda Meksiko kuno, Yoris berasal dari suku yang disebut Surem (Su-Ram) sebelum penaklukan Meksiko Tengah dan Amerika Selatan, wilayah sejauh Colorado Timur menyebutnya sebagai Sura. Sura dalam bahasa Kashmir diartikan Matahari. Masih banyak bukti linguistik yang menakjubkan terkait bahasa Kashmir, Sansekerta dan lainnya, muncul dalam bahasa Ra-Ram-Uri dimana hubungan kata ini terkait dengan Phoenicia kuno, Sumeria, dan India Utara.

Di India kuno, kultus Arya disebut 'Brahm-Arya', Arya menyembah banyak dewa dan Ibrahim berpaling dari kemusyrikan. Dengan demikian, dia bisa disebut menjadi 'A-Brahm' (bukan Brahman), Arya Asura menyebutnya 'Ah-Brahm', secara logika diasumsikan bahwa ayah dari peradaban Indus mungkin dari Yahudi. Yerusalem adalah orang Het (keturunan India dari kasta pemimpin), dalam kitab Kejadian 23:4 disebutkan bahwa Abraham meminta orang Het Yerusalem menjualnya plot pemakaman, orang Het menjawab: "...engkau pangeran di antara kami,..." Jika Abraham dihormati sebagai seorang pangeran oleh orang Het, dia juga anggota yang sangat dihormati keturunan penguasa dan kasta prajurit India. Alkitab tidak pernah menyebutkan bahwa Abraham bukanlah orang Het, orang Het mengatakan bahwa mereka mengakui Abraham, orang Het bukan etnis yang unik, baik itu orang Amori atau Amarru. 

Marruta adalah nama kasta India jelata, kata 'Amori' (Marut) adalah nama kasta pertama dari Waisya India, mereka kaum pengrajin, petani, peternak, pedagang, dan lainnya. Menurut GD Pande dalam buku 'Ancient Geography of Ayodhya' disebutkan: "Marut mewakili Visah. Marut digambarkan membentuk pasukan atau kelompok. Rudra, ayah dari Marut, dia adalah tuan ternak". Dalam hal ini, Khatti (Het) dan Marut (Amori) berfungsi sebagai ayah (pelindung) dan ibu (pendamping) Yerusalem.

Di India, orang Het juga dikenal sebagai Cedis atau Chedis (diucapkan Hatti atau Khetti). Sejarawan India mengklasifikasi mereka sebagai salah satu kasta Yadavas tertua. Cedi membentuk salah satu suku paling kuno diantara Ksatriyas (kelas bangsawan terdiri dari orang Het dan Kassites) dimasa Veda Awal. Pada awal periode Rgveda, raja Cedi memperoleh pengetahuan baru yang besar... salah satu kekuasaan terkemuka di India utara dalam Epik besar. 

"Ram atau Rama juga dari klan Yadava, jika Ibrahim, Abraham, Brahm, dan Ram adalah orang yang sama,... maka Ibrahim pergi ke Yerusalem bersama rakyatnya sendiri. Pengikut Ram yang memisahkan diri dalam komunitas mereka yang disebut Ayodhya, dalam bahasa Sansekerta berarti 'Terkalahkan'. Kata Sanskerta untuk menyebut 'tempur' adalah Yuddha atau Yudh. Abraham dan kelompoknya berasal dari Ayodhya (Yehudiya, Yudea) umat yang tetap jauh dari kekafiran dan Amalek... (apakah Amalek adalah Arya?)."

Melkisedek adalah seorang raja Yerusalem yang memiliki kekuatan mistik dan magis rahasia, dia juga disebut-sebut sebagai guru Abraham. Melik-Sadaksina adalah pemimpin besar India, seorang penyihir, dan raksasa spiritualis yang juga anak seorang raja Kassite. Di Kashmir dan bahasa Sansekerta, Sadak diartikan sebagai seseorang yang ajaib, berkekuatan supranatural. Zadok (Sadak) juga seorang imam supranatural yang memberkati Sulaiman. Jika demikian, mengapa kasta Kassite Melik-Sadaksina, tokoh mitos India secara tiba-tiba muncul di Yerusalem sebagai sahabat dan mentor Abraham? 

Ajaran Ibrahim Dan Brahma

Fenisia dianggap sebagai suku pelaut dan pedagang yang saat ini menghuni wilayah Lebanon. Tetapi orang-orang Hindu memanggilnya Pancika atau Pani, orang Romawi menyebutnya Puni, nama yang berasal dari Rama. Orang Spanyol menyebut tanah Ra-Ram-Uri Chiahuahua diucapkan penduduk asli dengan lafaz 'Shivava'. Dalam bahasa Sansekerta, Shivava diartikan sebagai Candi Siwa. Menurut ulama Hindu, Ram dan Dewa Siwa dulunya adalah dewa yang sama, Siwa dan Yah juga menonjol dalam praktik keagamaan asli Amerika dan ditemukan tertulis dalam Petroglyphs diseluruh Amerika Selatan.

Tidak satupun peradaban kuno termasuk China yang tidak terpengaruh pandangan agama Ram. Orang-orang Kristen dan Yahudi telah salah memahami bahwa Muhammad meniru ajarannya dari sumber Yahudi, yang benar adalah bahwa dalam periode waktu Muhammad, teologi Ram atau Ibrahim adalah dasar dari semua sekte agama, yang dilakukan Muhammad adalah untuk membersihkan manusia dari penyembahan berhala. Dalam buku Anacalypsis disebutkan: 

"...Kuil Mekah didirikan koloni Brahmana dari India. Ini merupakan tempat suci sebelum masa Muhammad, dan mereka diizinkan untuk berziarah ke sana selama beberapa abad setelah waktunya. Tidak perlu diragukan lagi bahwa popularitas tempat suci itu jauh sebelum masa nabi."
Dalam catatan Ibid disebutkan: "...kota Mekah disebutkan para Brahmana pada buku-buku tua mereka, telah dibangun koloni dari India, dan penduduknya dari periode awal telah memiliki tradisi yang dibangun oleh Ismail, anak Agar. Kota ini, dalam bahasa Indus disebut Ishmaelistan."

Sebelum memasuki periode Muhammad, orang-orang Hindu dari bangsa Arab disebut Tsaba. Tsaba atau Saba adalah kata Sansekerta, yang berarti 'Majelis para Dewa'. Tsaba juga disebut Isya-Ayalam  atau Moshe-ayalam (Kuil Dewa Siwa) hanyalah nama lain dari Sabaism. Kata ini telah menyusut kedalam Islam, Muhamad sendiri merupakan keturunan keluarga Quaryaish yang pada awalnya Tsabaist. Tsabaists tidak menganggap Ibrahim sebagai Dewa yang sebenarnya, tetapi sebagai avatar atau ilahi yang disebut Avather Brahmo (Hakim Dunia Bawah).

Ketika memasuki periode Isa dengan bahasa masing-masing suku, simbolisme agama, tradisi bangsa Arab dan Yahudi hampir identik. Ketika itu, sebagian besar tidak terlihat perbedaan antara orang-orang Arab dan Yahudi. Sejarah membuktikan bahwa orang-orang Arab di periode Isa menyembah berhala, begitu pula kelas bawah dan orang-orang Yahudi yang berada di pedesaan. 

Sejarah orang-orang Yahudi dimulai pada Zaman Perunggu di Timur Tengah ketika Allah menjanjikan seorang pemimpin pengembara disebut Abram, bahwa dia akan menjadi ayah dari orang-orang hebat jika melakukan seperti yang Tuhan katakan kepadanya. Yahudi menganggap Abraham sebagai Patriark pertama orang Yahudi, Abraham mengajarkan gagasan bahwa hanya ada satu Tuhan dimana sebelumnya orang-orang yang hidup pada waktu itu percaya pada banyak dewa. Tetapi ayah Abraham, Terach, adalah salah satu orang yang menjual berhala. Abraham ataupun Ibrahim adalah pondasi agama Kristen, Islam, dan Yahudi, sosok yang paling sulit dipahami dari semua tokoh-tokoh yang tercantum dalam kitab.

Referensi
“Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka baginya pahala seperti pahala orang yang melakukannya.” (HR. Muslim: 1893)
Sebarkan jika Bermanfaat, Klik Tombol di bawah ini ^_^

Friday, February 9, 2018

Blogger

Snouck Hurgronje Sang Orientalis Peredam Perjuangan Islam Indonesia


Menurut Snouck, masalah mendasar dalam penaklukan Islam dan umatnya adalah adanya fakta bahwa umat Islam percaya pada kebutuhan untuk persatuan negara dalam naungan Khalifah yang mengatur atas semua dari mereka sesuai dengan hukum syariah. Dalam sebuah surat kepada Goldziher pada 1886, satu tahun setelah perjalanannya ke Makkah, Snouck mengatakan, “… Saya tidak pernah keberatan dengan unsur-unsur keagamaan dari Islam. Menurut pendapat saya, pengaruh politik ini yang menyedihkan. Sebagai orang Belanda, aku merasa sangat perlu memperingatkan terhadap hal ini.”

Meski sudah meninggal lebih dari setengah abad, Christiaan Snouck Hurgronje tetap menjadi tokoh yang sangat kontroversial di dunia barat dan dunia Muslim.
Pada masanya dia adalah seorang orientalis terkenal di dunia, karena dia telah melakukan perjalanan ke Mekah dan mempelajari dan mendokumentasikan kehidupan Muslim di sana. Selama bertahun-tahun dia tinggal dan bekerja di antara orang-orang Muslim di Indonesia, membuatnya menjadi ahli dalam tradisi, bahasa dan agama dari berbagai suku di Indonesia.

Kepada rakyat dan pemerintah di barat dia selalu menampilkan dirinya sebagai ilmuwan. Dan sebagai ilmuwan ia menasehati berbagai pemerintahan barat mengenai "urusan Muslim". Pada saat yang sama dia menampilkan dirinya sebagai seorang Muslim yang tulus - dan bukan sebagai ilmuwan - kepada orang-orang di dunia Muslim tempat dia tinggal dan belajar. Di antara mereka ia pergi dengan nama "Abdul Ghaffaar". Sebagai seorang cendekiawan Islam, dia bahkan memberi fatwa kepada kaum Muslimin mengenai urusan agama dan politik. Karena dia memainkan peran ganda ini sepanjang hidupnya, hari ini, baik di barat maupun di dunia Muslim.

Christiaan Snouck Hurgronje lahir pada tanggal 8 Februari 1857 di kota Oosterhout Belanda. Ayahnya adalah Jacob Julianus Snouck Hurgronje (1812 - 1870), yang adalah seorang pengkhotbah di gereja Protestan Protestan. Untuk sementara, Jacob diusir dari gereja karena berselingkuh dengan Anna Maria de Visser (1819 - 1892) saat menikah dengan Adriana Magdalena van Adrichem (1813 - 1854). Setelah Adriana meninggal, Jacob akhirnya menikahi Anna Maria dan dia diizinkan kembali ke gereja. Dari pernikahannya dengan Anna Maria, Christiaan akhirnya lahir.

Ibu Christiaan Snouck Hurgronje, Anna Maria, juga berasal dari keluarga Pendeta Protestan. Jan Scharp (1756 - 1828) adalah kakek Anna Maria, dan dia adalah seorang pendeta terkenal di tenggara Belanda. Dia juga seorang misionaris, dan untuk mendukung kegiatan misionaris gereja Protestan Belanda dia menulis sebuah buku tentang Islam pada tahun 1824.

Setelah menyelesaikan sekolah menengah di kota Breda, pada tahun 1874, Christiaan Snouck Hurgronje pindah ke Leiden untuk belajar teologi. Rencananya untuk menjadi seorang pendeta di gereja Protestan, mengikuti contoh ayah dan kakeknya. Pada tahun 1878 dia benar-benar menyelesaikan pendidikan universitasnya dalam bidang teologi, namun saat itu dia tidak lagi percaya pada dogma kekristenan. Makanya, alih-alih menjadi seorang pendeta, Snouck terus belajar. Dia memulai sebuah studi bahasa Semit, yang mengkhususkan diri dalam bahasa Arab dan Islam. Pada 1880 ia lulus di bidang ini dengan cumlaude. Untuk doktornya dia telah meneliti haji kaum muslimin. Buku Snouck menulis tentang subjek ini setelah penelitiannya, "Perayaan Mekah (Het Mekkaansche Feest)", dia mengabdikan diri pada ibunya.

Segera setelah promosi Snouck pergi ke Jerman untuk belajar secara pribadi dengan orientalis paling terkenal di dunia saat itu, Theodoor Nöldeke. Setelah studi ini Snouck kemudian memulai karirnya sendiri di Orientalisme.


Christiaan Snouck Hurgronje, sang ilmuwan
Snouck adalah teman dekat orientalis terkenal lainnya pada masanya, Ignac Goldziher (1850 - 1921). Goldziher adalah seorang Hongaria warisan Yahudi yang juga pernah belajar di Leiden. Pada tahun 1873 Goldziher diberi beasiswa oleh pemerintah Hungaria untuk melakukan perjalanan melalui As Shaam, (sekarang Palestina, Suriah, Lebanon dan Yordania) dan Mesir. Ini memberi kesempatan kepada Goldziher untuk menjadi orang non-Muslim pertama yang belajar Islam di Al Azhar di Kairo. Goldziher akhirnya menulis sebuah buku tentang pengalamannya, yang membuatnya menjadi orientalis terkenal di dunia.

Adalah impian Snouck untuk mencapai posisi yang sama di bidang Orientalisme. Pada 1884 ia mendapat kesempatan. Konsul Belanda di Jeddah, Arab Saudi, namun saat itu masih merupakan bagian dari Negara Islam Utsmaniyah, seorang JA Kruyt tertentu, mengatur beasiswa senilai 1500 gulden untuk Snouck dengan Pemerintah Belanda [1]. Dengan uang ini Snouck bisa pergi ke Mekkah. Satu-satunya masalah adalah Snouck bukan seorang Muslim, yang dibutuhkan bagi siapa saja yang ingin pergi ke Kota Suci. Karena itu, Snouck pertama kali melakukan perjalanan ke Jeddah. Setelah tinggal di kantor konsulat untuk beberapa waktu, pada tanggal 1 Januari 1885 dia pindah ke rumah bangsawan Indonesia di Jeddah, Raden Haji Abu Bakar Djajadiningrat dari Pandeglang [2]. Sejak saat itu, Snouck menggunakan nama Abdul Ghaffaar saat ia menampilkan dirinya sebagai orang yang masuk Islam dan pada tanggal 5 Januari ia bahkan telah disunat menurut tradisi Islam. Berapa lama kemudian, pada tanggal 16 Januari 1885, Snouck dikunjungi oleh Hakim (qadhi) Jeddah, Ismail Agha, dan dua wakil Gubernur (wali) untuk Hizbullah Khilafah Utsmani yang duduk di Istanbul, Dia menyatakan masuk Islam (shahadah) di hadapan mereka. Keesokan harinya Snouck diberitahu bahwa Gubernur untuk Hejaz mengundangnya untuk pergi ke Mekkah. 

Snouck sendiri mengakui bahwa masuknya ia ke agama Islam tidak tulus, namun hanya satu langkah yang dianggap perlu untuk mencapai tujuannya melakukan perjalanan ke Mekah. Dalam sebuah surat kepada temannya Goldziher, yang ditulis pada hari dia masuk islam, dia berkata: "Saya tidak ingin tetap bersembunyi dari Anda bahwa adalah mungkin, atau bahkan sangat mungkin, bahwa saya akan pergi ke Mekkah [...]. Tentu saja, jika seseorang tidak berpura-pura menjadi Muslim [secara harfiah: apakah Izhar al Islam], ini tidak mungkin. "

Penyamaran Snouck sebagai Muslim sukses. Surat yang dia terima selama tinggal di Mekah ditujukan kepada "Abdul Ghaffaar", dan di dalamnya Snouck secara teratur disebut "saudara atas nama Allah". Snouck juga diberi tahu dengan surat bahwa para ilmuwan di Mekah telah menerima dia sebagai seorang Muslim dan mereka tidak meragukan keislamannya. Dan karena itu, dia akan diizinkan bergabung di lingkungan studi mereka, yang kemudian Snouck lakukan.

Setelah hanya lima setengah bulan, hanya beberapa hari sebelum dimulainya ibadah haji, Snouck harus melarikan diri dari Mekkah karena kedutaan Prancis telah menyebarkan desas-desus tentang dia menjadi pencuri benda-benda kuno. Makanya, beberapa hari sebelum Snouck bisa menyaksikan apa yang ingin dia saksikan, dia meninggalkan Mekah. [4]

Kembali di Belanda Snouck mulai mengerjakan sebuah buku tentang pengalamannya di Kota Suci. Bila catatannya tentang cara dan praktik orang-orang Mekah terbatas, temannya Raden Abu Bakr membantu dengan mengirimkan surat Snouck dengan informasi tambahan. Dengan cara ini Snouck bisa menerbitkan buku "Mekah (Mekka)" pada tahun 1888. Dan buku ini memang membuatnya terkenal di dunia sebagai seorang orientalis. Tetapi meskipun sekitar 100 dari 300 halaman buku tersebut, yang mencakup deskripsi kehidupan pribadi orang-orang Mekah dan biografi Ulama Indonesia yang tinggal di Mekkah, didasarkan pada surat-surat Raden Abu Bakar, Snouck tidak menyebutkan tentang Dukungan yang dia terima dari Abu Bakar dan sebaliknya mempresentasikan keseluruhan pekerjaan sebagai usaha murni sendiri.

Buku ini membuatnya menjadi orientalis terkenal yang sama-sama Universitas Leiden dan Universitas Cambridge menawarinya kursi fakultas untuk jurusan bahasa Arab dan Islam mereka. Tapi Snouck menolak tawaran keduanya, karena ia ingin melakukan penelitian lebih banyak tentang Islam, kali ini di koloni Belanda Indonesia. Untuk tujuan ini Snouck kembali meninggalkan Belanda, pada tanggal 1 April 1889, kali ini melakukan perjalanan ke Indonesia. Di Indonesia juga ia menampilkan dirinya sebagai seorang Muslim, saat ia memperkenalkan dirinya kepada penduduk setempat sebagai Abdul Ghaffaar. Dan dia melakukan perjalanan keliling Indonesia didampingi oleh orang Indonesia yang dia temui selama waktunya di Mekah. Raden Hadji Hasan Moestafa dari Garut, misalnya, menemani Snouck dalam perjalanan pertamanya melalui Jawa Barat dan Jawa Tengah. Meninggalkan Batavia [5] pada tanggal 15 Juli, Snouck mengunjungi Sukabumi, Bandung, Garut, Tjalintjing, lagi-lagi Garut, Tjeribon (Cirebon), Mangunredja (Mangunreja), Tjiamis (Ciamis), Tjeribon (Cirebon) lagi, Tegal, Pekalongan, Wiradesa, Bumiadjo, Banjumas, Purbollinggo, Wonosobo, Purworejo, Kebumen, Garut lagi dan Tjiandjur (Cianjur). Pada bulan Januari 1890, akhirnya, Snouck kembali ke Batavia. Dalam sebuah surat kepada Theodoor Nöldeke, tertanggal 12 November 1889, Snouck mengatakan tentang perjalanannya: "Selama lebih dari tiga bulan saya telah bepergian sekarang. Saya telah mengunjungi tempat-tempat terpenting di 26 kota utama di Jawa dan berkenalan dengan cara hidup masyarakat Sunda dan Jawa Barat yang sangat menarik [6], terutama sisi religiusnya, namun juga dengan 'adat' [ 7] yang sangat dicintai dan dihormati disini ... ". Selama perjalanannya, Snouck secara teratur berkontribusi dalam surat kabar Belanda "De Locomotief" (diterbitkan di Indonesia) dan "Nieuwe Rotterdamsche Courant" (diterbitkan di Belanda). Dalam artikelnya ia menggambarkan cara hidup orang Jawa, saat ia menyaksikannya secara langsung. Untuk artikel ini Snouck menggunakan nama samaran "Toekoe Mansoer" dan "Toekoe Si Gam".

Setelah ini, dari tanggal 16 Juli 1891 sampai awal Februari 1892 Snouck tinggal di Aceh. Di sana, seperti orang Belanda pertama, dia mempelajari bahasa Aceh setempat. Pada tahun 1900 ia kemudian menerbitkan sebuah buku tentang pokok ini, yang berjudul: "Studi dalam bahasa Aceh (Atjehsche taalstudiën)". Sekali lagi bersama Raden Hadji Hasan Moestafa dari Garut Snouck juga pergi ke pesantren di Aceh untuk mengembangkan wawasan tentang pendidikan agama di daerah tersebut. Atas dasar perjalanan ini, Snouck kemudian menerbitkan buku "Orang Aceh (De Atjehers)", dalam dua jilid antara 1893 dan 1894. "Orang Aceh" adalah buku antropologi yang menggambarkan semua aspek kehidupan orang Aceh, situasi politik mereka, agama, bahasa mereka, tradisi dan adat istiadat mereka, dan seterusnya.

Pada tahun 1906, Snouck kembali ke Belanda untuk menjadi profesor bahasa Arab di Universitas Leiden. Dia tetap di posisi ini sampai 1927.

Pada tahun 1914 dan 1915 Snouck diundang untuk melakukan perjalanan ke berbagai universitas di Amerika Serikat. Ceramah yang dia berikan pada waktu itu berubah menjadi sebuah buku pada tahun 1916, dengan judul "Mohammedanism (Ajaram Muhammad): Ceramah tentang Asal Usul Pertumbuhan Agama dan Politik, dan Terbentuknya Negara Islam". Ceramah ini menunjukkan pandangan pribadi Snouck tentang Islam. Menurut Snouck, Nabi Muhammad SAW telah membentuk Islam. Dia berkata: "Bahkan untuk bagian-bagian [Quran] yang kami mengerti, kami tidak dapat melihat susunan kronologis yang diperlukan untuk mendapatkan wawasan tentang kepribadian dan pekerjaan Muhammad." Pernyataan ini menyiratkan bahwa menurut Snouck Nabi Muhammad SAW telah membuat Quran. Karena menurut Snouck kepribadian Nabi Muhammad SAW bisa dipelajari dari Quran, seperti kepribadian seorang penulis menunjukkan dalam tulisannya. Menurut Snouck juga, Nabi Muhammad SAW telah mempelajari beberapa hal tentang Yudaisme (Yahudi) dan Kekristenan, dan berdasarkan informasi ini, dibuatlah Alquran. Dia berkata: "Kita mungkin tidak akan pernah tahu, dengan melakukan hubungan dengan siapa sebenarnya Muhammad sampai akhirnya memperoleh pengetahuan tentang isi kitab suci Yudaisme (Yahudi) dan Kristen; mungkin melalui berbagai orang, dan dalam jangka waktu yang cukup panjang. Itu bukan huruf manusia yang memuaskan rasa ingin tahuanya terbangun; Jika tidak, ide yang cukup membingungkan [...] tidak dapat dijelaskan. Kebingungan [...] mungkin dimasukkan ke dalam kesalahpahaman tentang Muhammad sendiri, yang sama sekali tidak bisa sekaligus menguasai materi yang asing itu. Tapi representasinya tentang Yudaisme dan Kekristenan dan sejumlah bentuk wahyu lainnya [...] tidak mungkin ada jika dia tidak memiliki kenalan dekat dengan orang-orang Yahudi atau Kristen yang memiliki tulisan kitab. " Itulah sebabnya menurut Snouck, ajaran Islam tidak lebih dari sekedar kumpulan undang-undang dari perjanjian lama dan baru: "Nah, sumber otentik yang kaya ini [...]dari nasihat untuk praktek kebajikan kardinal dari Perjanjian Lama dan Baru ... ".

Sejauh menyangkut narasi, menurut Snouck sebagian besar ditemukan oleh kaum Muslim: "Pada abad pertama Islam tidak ada yang bisa mengimpikan cara lain untuk mendapatkan penerimaan doktrin atau ajaran daripada dengan menyebarkan sebuah tradisi, yang menurutnya Muhammad telah mengkhotbahkan ajaran atau mendiktekannya atau telah hidup sesuai dengan ajarannya. ". Menurut Snouck banyak hal yang belum diklarifikasi saat Nabi Muhammad SAW meninggal. Makanya, katanya, umat Islam menciptakan tradisi untuk menyelesaikan masalah yang ditimbulkannya. Oleh karena itu, buku-buku Seerah (Sejarah) adalah pemalsuan yang lengkap, jadi Snouck berkata: "Generasi yang mengerjakan biografi Nabi terlalu jauh dari masanya untuk memiliki data atau gagasan yang benar; dan, apalagi, bukan tujuan mereka untuk mengetahui masa lalu seperti apa adanya,

Pendapatnya tentang Sunnah dan Seerah menunjukkan bahwa Snouck menganggap penulis Muslim sama sekali tidak dapat diandalkan. Kemungkinan besar inilah mengapa dia mengatakan mengenai kitab-kitab Tafsir yang ditulis oleh umat Islam: "Kita harus berusaha untuk membuat penjelasan tentang Quran kita terlepas dari tradisi." Dengan kata lain, untuk memahami ilmuwan Al-Quran barat harus mengabaikan pendapat orang-orang Muslim mengenai makna Al-Quran, menurut Snouck, karena dia menganggap pendapat ini tidak dapat diandalkan dan kemungkinan besar salah.

Christiaan Snouck Hurgronje, penasihat politik
Snouck hidup pada masa kolonialisme. Belanda adalah penguasa kolonial atas Indonesia, dan oleh karena itu surat kabar Belanda secara teratur melaporkan kejadian dan kejadian di "Hindia Belanda". Selain itu, surat kabar Belanda secara teratur memuat pendapat yang membahas masalah yang dihadapi Belanda di daerah koloni mereka, dan itu mengusulkan solusi untuk masalah ini. Dengan kata lain, politik kolonial diperdebatkan dengan hangat. Masalah utama bagi Belanda di Indonesia adalah perlawanan masyarakat setempat terhadap peraturan Belanda. Untuk sebagian besar, perlawanan ini terinspirasi oleh Islam. Banyak orang Indonesia bertempur karena mereka melihat diri mereka subyek Negara Islam Al Khilafah yang tanahnya telah diduduki oleh orang asing. Ini terjadi terutama di Aceh. Sebagai konsekuensinya, Belanda mendapati dirinya macet dalam waktu lama,

Sangat jelas bahwa Snouck menyadari bahwa ia memiliki kemampuan untuk memainkan peran penting dalam masalah ini. Sejak awal karirnya sebagai seorang orientalis ia melakukan yang terbaik untuk memainkan peran ini. Misalnya dalam buku yang dia tulis untuk disertasinya, "Perayaan Mekah (De Mekkaansche feesten)", dia menulis saran berikut untuk pemerintah Belanda: "Di mana di Hindia Belanda para peziarah memiliki pengaruh buruk terhadap orang lokal [Indonesia] Orang, ada orang yang harus menghukum sekeras mungkin, juga dengan tujuan mengurangi jumlah orang yang pergi haji ".

Sama halnya, perjalanan Snouck ke Mekah tidak hanya melayani tujuan ilmiah. Alasan konsul Kruyt di Jeddah mengorganisir sebuah beasiswa dari Menteri Urusan Kolonial Belanda untuk Snouck, sehingga Snouck bisa pergi ke Mekkah, adalah bahwa Kruyt ingin memiliki mata-mata di Mekah yang dapat memberikan informasi tentang orang-orang Indonesia di Mekkah. Bukan suatu kebetulan, oleh karena itu, bahwa rumah di Jeddah yang dikunjungi Snouck bersama Raden Abu Bakar persis di seberang rumah seorang bangsawan terkemuka di Aceh, yang digunakan sebagai hotel oleh banyak peziarah Aceh. Jadi dari rumah mereka Snouck dan Raden Abu Bakar bisa melacak siapa saja yang masuk atau meninggalkan wisma untuk orang Aceh di Jeddah. Dalam buku tentang waktunya di Mecca Snouck juga memberi nasehat kepada pemerintah Belanda mengenai Indonesia. Dia mengatakan bahwa pemerintah kolonial harus mengawasi kembalinya peziarah dan mencoba untuk mendapatkan simpati mereka. Jika upaya untuk mewujudkan hal ini gagal dengan peziarah tertentu, kata Snouck selanjutnya, maka pemerintah Belanda harus menetralisir peziarah tersebut.

Jadi, di mana bisa dikatakan bahwa perjalanan Snouck ke Mekkah memiliki sains sebagai tujuan sebenarnya, dan pengumpulan intelijen sebagai tugas sampingan; Mengenai perjalanan Snouck ke Indonesia jelas bahwa tujuan sebenarnya adalah pengumpulan intelijen. Setiap tujuan ilmiah yang dinyatakan tidak lain hanyalah sebuah jubah untuk menyembunyikan kebenaran ini. Snouck sendiri telah meminta pemerintah Belanda untuk dikirim ke Indonesia sebagai mata-mata untuk Belanda: "Menanggapi diskusi saya cukup terhormat untuk memiliki dengan Yang Mulia [9], saya ingin mengulangi permintaan yang telah saya sampaikan sebelumnya melalui surat , yang mana saya dikirim ke Aceh ... ". Pemerintah Belanda menyetujui permintaannya untuk mengirimnya ke Indonesia sebagai agen mereka. Snouck mengatakan bahwa dia ingin memusatkan karyanya di Aceh: "Sebelum berangkat ke Indonesia [...] Saya menjelaskan kepada menteri bahwa sejauh menyangkut kepentingan politik Islam, Aceh harus sangat penting dalam penelitian saya." Oleh karena itu, pemerintah Belanda mengirim surat kepada pegawai negeri di Indonesia yang mengatakan: "Interferensi langsung [dalam kunjungan Snouck] sendiri atau yang dilaporkan kepada Anda harus dihindari dengan hati-hati, sehingga dapat dipastikan tujuan resminya tidak menjadi jelas bagi masyarakat setempat, karena itu akan sangat merusak hasil yang mungkin terjadi. ". Dengan kata lain, Belanda menginstruksikan pemerintah kolonial agar tetap waspada terhadap Snouck, sehingga dia bisa memenangkan kepercayaan masyarakat setempat. "Interferensi langsung [dalam kunjungan Snouck] oleh Anda sendiri atau laporan yang dilaporkan kepada Anda harus dihindari dengan hati-hati, sehingga dapat dipastikan tujuan resminya tidak menjadi jelas bagi masyarakat setempat, karena ini akan sangat merusak hasil yang mungkin terjadi." . Dengan kata lain, Belanda menginstruksikan pemerintah kolonial agar tetap waspada terhadap Snouck, sehingga dia bisa memenangkan kepercayaan masyarakat setempat. "Interferensi langsung [dalam kunjungan Snouck] oleh Anda sendiri atau laporan yang dilaporkan kepada Anda harus dihindari dengan hati-hati, sehingga dapat dipastikan tujuan resminya tidak menjadi jelas bagi masyarakat setempat, karena ini akan sangat merusak hasil yang mungkin terjadi." . Dengan kata lain, Belanda menginstruksikan pemerintah kolonial agar tetap waspada terhadap Snouck, sehingga dia bisa memenangkan kepercayaan masyarakat setempat.

Di Belanda, bagaimanapun, realitas perjalanan Snouck ke Indonesia adalah pengetahuan umum. Dan banyak orang berharap Snouck bisa memecahkan masalah bagi Belanda di Indonesia, sekali dan untuk selamanya. Oleh karena itu, beragam surat kabar berusaha agar pembaca mereka tidak mengetahui aktivitas Snouck di Indonesia. Sampai suatu hari surat kabar NRC menerbitkan sebuah surat yang telah dia terima, yang mengatakan: "Di surat kabar kami kadang-kadang dapat menemukan artikel tentang Dr. Snouck Hurgronje, siapa dia, apa yang dia lakukan di koloni kami, dan misinya . Saya segera meminta editor surat kabar ini, terutama yang terbit di Indonesia, untuk menghentikan ini, karena mereka tidak membantu karyanya dengan cara ini. Tujuan Dr. Snouck Hurgronje adalah untuk bisa belajar Islam di kalangan orang-orang Mohammed sendiri, dan dengan cara itu [mengenal] gerakan besar di Timur kita, yang memproklamirkan dirinya di bawah kepemimpinan peziarah fanatik, dan bahwa melalui banyak pertumpahan darah telah menunjukkan kepentingannya. " Cukup jelas surat ini ke surat kabar NRC adalah sebuah permintaan untuk berhenti melaporkan kegiatan Snouck, sehingga kegiatan dan tujuan sebenarnya yang mereka sajikan dapat disembunyikan dari orang Indonesia.

Ketika Snouck berangkat ke Indonesia, rencana awalnya adalah melakukan perjalanan menyamar ke daerah pedalaman Aceh, untuk mendekati Sultan Aceh di Keumala dan mengumpulkan intelijen yang akan bermanfaat bagi tentara Belanda. Tentara Belanda, bagaimanapun, tidak ingin bantuan Snouck. Makanya, gubernur Belanda untuk Indonesia mengirim Snouck ke Batavia. Di sana ia tiba pada tanggal 11 Mei 1889, dan tak lama setelah itu tampak jelas bahwa kebanyakan Muslim Indonesia tidak menyadari maksud sebenarnya. Teman-teman Indonesia Snouck di Mekah telah memberi tahu orang-orang sebangsanya tentang kedatangan Snouck, dan telah menyerahkannya kepada mereka sebagai seorang sarjana Muslim terpelajar. Oleh karena itu, Snouck menerima banyak undangan dari orang-orang Indonesia setempat, di mana dia secara reguler dialamatkan sebagai "Al Hajj Abdul Ghaffaar", "Mufti" dan bahkan sebagai "Sheikh al Islam Batavia".

Selama perjalanannya kemudian melalui Indonesia Snouck tidak hanya mencatat segala macam informasi tentang masyarakat setempat. Ia juga berusaha keras meningkatkan statusnya di kalangan penduduk lokal. Untuk tujuan ini ia biasa mengunjungi semua tokoh terkemuka di satu daerah. Dan ketika di satu daerah ia diberi kesempatan untuk menikahi putri salah satu tokoh terkemuka ini, ia menikah sampai 4 kali. Yang pertama ia menikahi puteri berusia 17 tahun dari kepala-panghulu [10] Tjiamis, Raden Haji Muhammed Ta'ib, dan istrinya Nata Rasmi. Namanya Sangkana. Dia sendiri tidak ingin menikahi Snouck, yang jauh lebih tua darinya dan tidak terlalu tampan. Tapi orang tuanya mendesaknya untuk menikahi "sarjana besar" untuk meningkatkan status keluarga, dan dikaruniai 4 orang anak. Sayang, pada tahun 1896, saat mengandung anak ke-5, Sangkana keguguran dan meninggal bersama bayi yang dikandungnya.

Tak sampai 2 tahun kemudian, Snouck Hurgronje menikah lagi. Kali ini dengan Siti Sadiah, puteri Kalipah Apo, wakil penghulu di Bandung. Dari pernikahan itu mereka dikarunai seorang anak bernama Raden Joesoef. Namun setelah itu, Snouck Hugronje dipanggil pulang ke Belanda. Raden Joesoef sendiri memiliki 11 orang anak. Yang paling sulung adalah Eddy Joesoef, pemain bulu tangkis yang pada tahun 1958 berhasil merebut Piala Thomas di Singapura.

Snouck Hurgronje menikah menurut praktik Islam. Namun, Menurut hukum Belanda, tidak diperbolehkan orang Eropa menikahi wanita pribumi. Oleh karena itu, begitu media Belanda mulai melaporkan rumor bahwa Snouck telah menikahi seorang wanita pribumi, Snouck sendiri mengirim surat ke surat kabar tersebut untuk secara resmi menyangkal bahwa dia telah menikah.

Pengembaraannya berakhir 1906 dan kembali ke Belanda. Pada 1910, di Belanda, ia kawin dengan Ida Maria, putri seorang pensiunan pendeta di Zutphan, Dr AJ Gort. Setelah dikukuhkan sebagai guru besar Universitas Leiden pada 1907 (tiga tahun setelah menikah), ia menekuni profesi sebagai penasihat Menteri Urusan Koloni. Pekerjaan ini diemban hingga akhir hayatnya, 16 Juli 1936.

Mengenai waktu Snouck di Aceh, mulai bulan Juli 1891 sampai Februari 1892, perannya hanya murni bersifat politis. Dia ditunjuk sebagai "Penasihat Bahasa Timur dan Hukum Mohammed". Buku "Orang Aceh" yang dimuat Snouck berikut waktunya di Aceh sebenarnya terdiri dari laporan yang dia tulis agar pemerintah kolonial menasihati mereka. Nama resmi proyek penelitian ini untuk pemerintah Belanda adalah "Laporan situasi keagamaan dan politik di Aceh (Verslag omtrent de religieus politieke toestand in Atjeh)". Laporan ini panjangnya lebih dari 1000 halaman, dan buku "Orang Aceh" terdiri dari dua bab pertama dari laporan tersebut. Pemerintah Belanda mengumumkan bagian ketiga dari laporan tersebut sebagai "rahasia negara", dan akibatnya ini disembunyikan dari masyarakat sampai tahun 1957. Pesan utama dalam "Laporan situasi keagamaan dan politik di Aceh" adalah bahwa perlawanan di Aceh tidak benar-benar dipimpin oleh Sultan, seperti yang selalu dipikirkan Belanda, namun oleh ulama Islam, Ulama. Oleh karena itu, Snouck menyarankan agar pemerintah Belanda mencoba menyuap Sultan, dan menganiaya Ulama dengan kekuatan penuh. Dia berkata: "Tidak mungkin bernegosiasi dengan Ulama. Ajaran dan minat mereka menyiratkan bahwa mereka hanya akan mendengarkan kekerasan. Untuk memukul mereka di tempat yang sakit, sehingga orang Aceh akan terlalu takut untuk bergabung dengan pemimpin perkumpulan ini, merupakan syarat mutlak untuk memulihkan ketertiban di Aceh ". Kekerasan terhadap ulama Islam yang diminta Snouck harus mencapai tujuan berikut, seperti yang Snouck katakan: "Seperti itulah yang harus diakui oleh sang ilmuwan. Dia harus menjauhkan diri dari ajaran Jihad, maka dia harus beralih ke ajaran yang merugikan mengenai Hari Akhir. Pada saat itu Islam akan berbeda dari agama besar lainnya hanya melalui ajarannya tentang ibadah dan ritual yang harus dilakukan untuk pencapaian kebahagiaan abadi. ". Dengan kata lain, Snouck menginginkan kekerasan melawan Ulama sehingga mereka berhenti berbicara tentang Jihad, Negara Islam, dan konsep-konsep lain dari "Islam politik"; dan ke depan hanya akan berbicara tentang Hari Pengadilan dan ritual ibadah. Snouck menginginkan kekerasan melawan Ulama sehingga mereka berhenti berbicara tentang Jihad, Negara Islam, dan konsep-konsep lain dari "Islam politik"; dan ke depan hanya akan berbicara tentang Hari Pengadilan dan ritual ibadah. Snouck menginginkan kekerasan melawan Ulama sehingga mereka berhenti berbicara tentang Jihad, Negara Islam, dan konsep-konsep lain dari "Islam politik"; dan ke depan hanya akan berbicara tentang Hari Pengadilan dan ritual ibadah.

Awalnya, pemerintah Belanda mengabaikan saran Snouck. Mereka melanjutkan perang mereka yang memusatkan perhatian pada Sultan. Tapi karena Perang Aceh tidak dimenangkan, pada tahun 1896 mereka memutuskan untuk mencoba yang lain. Mereka menunjuk jenderal Joannes Benedictus Van Heutsz sebagai gubernur untuk Aceh, dan memberinya tugas untuk mengatur penaklukan wilayah secara keseluruhan ke pemerintahan Belanda. Pada tahun 1898 Van Heutsz kemudian menunjuk Snouck sebagai penasihatnya di Aceh. Snouck akan tetap menjadi penasihat Van Heutsz sampai tahun 1901. Van Heutsz memastikan tentara mengikuti nasehat Snouck dari tahun 1892, dan secara teratur mengirim Snouck bersama dengan tentara dalam ekspedisi militer. Sebagai konsekuensinya, julukan Van Heutsz menjadi "pedang Snouck". Tentara Belanda kemudian memulai sebuah kampanye yang berfokus pada menemukan dan membunuh Ulama Aceh. Dan mereka begitu sukses dalam hal ini sehingga pada tahun 1903, setelah 30 tahun perang,

Tak lama setelah pengumuman ini, gambar muncul dari medan perang di Aceh. Mereka menjelaskan bahwa kebanyakan "medan perang" perang Van Heutsz dan Snouck sebenarnya adalah desa-desa di Aceh. Untuk menemukan dan membunuh Ulama, tentara Belanda secara teratur pergi ke desa-desa dan membunuh setiap orang, juga perempuan dan anak-anak. Meski begitu, setelah Aceh Snouck tetap menjadi penasehat pemerintah Belanda. Dia juga menasehati mereka untuk menanggapi pemberontakan di Djambi, Krintji, Bandjarmasin, Riau-Lingga en Boni, misalnya.

Visi Snouck Hurgronje tentang "Isu Islam"
Menurut Snouck, dari dulu hingga zaman yang akan datang, “Isu Islam” akan menjadi perbincangan yang cukup serius dalam berbagai agenda politik. Snouck Hurgronje bukan semata ilmuwan yang diminta untuk menyelesaikan satu masalah semata. Namun, Pemerintah Belanda telah banyak meminta pertimbangan kepada Snouck untuk memecahkan berbagai masalah yang dihadapi Belanda akibat banyaknya pemberontakan yang terjadi di berbagai daerah. Sebagai mata-mata dan penasihat pemerintah Belanda, ia aktif bekerja mencari solusi-solusi jitu untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi Belanda. Di daerah manapun di Indonesia, tatkala muncul benih-benih api perlawanan dan pemberontakan, Snouck pasti akan dikirim untuk memastikan kembalinya kontrol Belanda atas kaum Muslim. Snouck juga diminta Pemerintah Belanda untuk mencari solusi jangka panjang terhadap masalah-masalah Belanda di Indonesia..

Menurut Snouck, masalah mendasar dalam penaklukan Islam dan umatnya adalah adanya fakta bahwa umat Islam percaya pada kebutuhan untuk persatuan negara dalam naungan Khalifah yang mengatur atas semua dari mereka sesuai dengan hukum syariah. Dalam sebuah surat kepada Goldziher pada 1886, satu tahun setelah perjalanannya ke Makkah, Snouck mengatakan, “… Saya tidak pernah keberatan dengan unsur-unsur keagamaan dari Islam. Menurut pendapat saya, pengaruh politik ini yang menyedihkan. Sebagai orang Belanda, aku merasa sangat perlu memperingatkan terhadap hal ini.”

Menurut Snouck, sisi politik Islamlah yang menyebabkan semua masalah bagi Belanda di Indonesia. Sejatinya Islam telah menjadi motivasi bagi masyarakat Indonesia untuk melawan pendudukan Belanda. Namun, menurut Snouck, sisi politik Islam juga menjadi masalah bagi umat Islam sendiri. Menurut dia, keyakinan kaum Muslim di Negara Khilafah Islam terhadap Hukum Islam inilah yang justru membuat mereka mundur. Snouck berpendapat kesalahan dalam pemahaman terhadap hukum syariahlah yang menyebabkan kemunduran tersebut. Hukum syariah dipahami sebagai ciptaan umat Islam pada abad pertengahan. Snouck berpendapat, karena kebanyakan kaum Muslim mempercayai hal tersebut dan sikap mereka yang tidak ingin menjauhkan diri dari hukum-hukum ini, maka kaum Muslim terjebak pada pemahaman abad pertengahan tersebut. Snouck juga menyampaikan bahwa kolonialisme benar-benar membawa berkah. Pasalnya, dengan kolonialisme umat Islam jadi diperkenalkan dengan ide-ide modern ‘pencerahan’, seperti sekularisme, kebebasan pribadi dan demokrasi. Snouck mengatakan, “Sekitar 230.000.000 orang Islam yang hidup di bawah aturan non-Muslim [sekular] sangat sering tidak memiliki kesadaran sejarah yang cukup untuk dapat mengenali bahwa perubahan dalam pemerintahan, berarti ada ‘perbaikan’ bagi mereka. Mereka melihat sejarah politik Islam melalui legenda. Ketika legenda ini memberikan alasan untuk komplain, mereka biasanya percaya bahwa semua komplain-komplain itu akan diselesaikan oleh Amirul Mukminin yang mengatur urusan mereka.”

Apa yang dibayangkan Snouck sebagai solusi akhir untuk “Isu Islam” adalah perubahan Islam itu sendiri. Snouck ingin Islam menjadi seperti agama Kristen; sebuah agama yang hanya mengurusi ibadah ritual semata, sedangkan urusan lainnya, seperti undang-undang dan politik, diserahkan seluruhnya kepada manusia. Snouck mengatakan, “Satu-satunya solusi yang benar untuk masalah Islam adalah terletak pada asimilasi subyek Islam dari Belanda dengan Belanda. Jika kita bisa berhasil dalam hal ini, tidak akan ada sebuah ‘Isu Islam’ lagi. Maka akan ada kesatuan budaya antara subyek dari Ratu Belanda yang tinggal di pantai Laut Utara dan mereka yang tinggal di Insulinde[11], Kondisi ini akan membuat perbedaan dalam agama mereka tanpa ada kepentingan politik atau sosial.” Snouck menyebut, inilah tujuan dari “aneksasi mental” umat Islam.

Jika umat Islam Indonesia percaya pada ideologi Barat sebagaimana Barat mempercayai ideologi tersebut, maka umat Islam akan merasa satu dengan Barat. Kondisi ini memudahkan bagi umat Islam untuk dikuasai Barat, meskipun ritual keagamaannya berbeda dengan Barat.
Oleh karena itu, Snouck menyarankan agar pemerintah Belanda membedakan antara apa yang dia sebut "inti ajaran Islam sebenarnya" seperti berdoa, haji, percaya pada Hari Pembalasan, dan lain-lain, yang menurut Snouck adalah semua hal yang tidak berbahaya; dan "segala sesuatu yang bersifat politik atau akhirnya bisa menjadi politis". "Inti dogma sebenarnya", atau apa yang kadang-kadang disebut Snouck "yang murni religius", harus dibiarkan sepenuhnya bebas [12]. Tapi pemerintah harus secara paksa bertindak melawan Islam politik. Khilafah, Jihad, Syariah, tidak boleh dibicarakan lagi, dimana saja.

Christiaan Snouck Hurgronje merupakan tokoh peletak dasar kebijakan “Islam Politiek” yang merupakan garis kebijakan “Inlandsch politiek” yang dijalankan pemerintah kolonial Belnda terhadap pribumi Hindia Belanda. Konsep strategi kebijakan yang diciptakan Snouck terasa lebih lunak dibanding dengan konsep strategi kebijakan para orientalis lainnya, namun dampaknya terhadap umat Islam terus berkepanjangan bahkan berkelanjutan sampai dengan saat ini.

Berdasarkan konsep Snouck, pemerintah kolonial Belanda dapat mengakhiri perlawanan rakyat Aceh dan meredam munculnya pergolakan-pergolakan di Hindia Belanda yang dimotori oleh umat Islam. Pemikiran Snouck -berdasarkan pengetahuan dan pengalamannya- menjadi landasan dasar doktrin bahwa “musuh kolonialisme bukanlah Islam sebagai Agama, melainkan Islam sebagai Doktrin Politik”.

Konsep Snouck berlandaskan fakta masyarakat Islam tidak mempunyai organisasi yang “Hirarkis” dan “Universal”. Disamping itu karena tidak ada lapisan “Klerikal” atau kependetaan seperti pada masyarakat Katolik, maka para ulama Islam tidak berfungsi dan berperan pendeta dalam agama Katolik atau pastur dalam agama Kristen. Mereka tidak dapat membuat dogma dan kepatuhan umat Islam terhadap ulamanya dikendalikan oleh dogma yang ada pada Al-Qur’an dan Al-Hadits -dalam beberapa hal memerlukan interprestasi- sehingga kepatuhan umat Islam terhadap ulamanya tidak bersifat mutlak.

Tidak semua orang Islam harus diposisikan sebagai musuh, karena tidak semua orang Islam Indonesia merupakan orang fanatik dan memusuhi pemerintah “kafir” belanda. Bahkan para ulamanya pun jika selama kegiatan Ubudiyah mereka tidak diusik, maka para ulama itu tidak akan menggerakkan umatnya untuk memberontak terhadap pemerintah kolonial Belanda. Namun disisi lain, Snouck menemukan fakta bahwa agama Islam mempunyai potensi menguasai seluruh kehidupan umatnya, baik dalam segi sosial maupun politik.

Snouck memformulasikan dan mengkategorikan permasalahan Islam menjadi tiga bagian, yaitu ; bidang Agama Murni, bidang Sosial Kemasyarakatan, bidang Politik. Pembagian kategori pembidangan ini juga menjadi landasan dari doktrin konsep “Splitsingstheori”.

Pada hakikatnya, Islam tidak memisahkan ketiga bidang tersebut, oleh Snouck diusahakan agar umat Islam Indonesia berangsur-angsur memisahkan agama dari segi sosial kemasyarakatan dan politik. Melalui “Politik Asosiasi” diprogramkan agar lewat jalur pendidikan bercorak barat dan pemanfaatan kebudayaan Eropa diciptakan kaum pribumi yang lebih terasosiasi dengan negeri dan budaya Eropa. Dengan demikian hilanglah kekuatan cita-cita “Pan Islam” dan akan mempermudah penyebaran agama Kristen.

Dalam bidang politik haruslah ditumpas bentuk-bentuk agitasi politik Islam yang akan membawa rakyat kepada fanatisme dan Pan Islam, penumpasan itu jika perlukan dilakukan dengan kekerasan dan kekuatan senjata. Setelah diperoleh ketenangan, pemerintah kolonial harus menyediakan pendidikan, kesejahteraan dan perekonomian, agar kaum pribumi mempercayai maksud baik pemerintah kolonial dan akhirnya rela diperintah oleh “orang-orang kafir”.

Dalam bidang Agama Murni dan Ibadah, sepanjang tidak mengganggu kekuasaan, maka pemerintah kolonial memberikan kemerdekaan kepada umat Islam untuk melaksanakan ajaran agamanya. Pemerintah harus memperlihatkan sikap seolah-olah memperhatikan agama Islam dengan memperbaiki tempat peribadatan, serta memberikan kemudahan dalam melaksanakan ibadah haji.

Dalam bidang Sosial Kemasyarakatan, pemerintah kolonial memanfaatkan adat kebiasaan yang berlaku dan membantu menggalakkan rakyat agar tetap berpegang pada adat tersebut yang telah dipilih agar sesuai dengan tujuan mendekatkan rakyat kepada budaya Eropa. Snouck menganjurkan membatasi meluasnya pengaruh ajaran Islam, terutama dalam hukum dan peraturan. Konsep untuk membendung dan mematikan pertumbuhan pengaruh hukum Islam adalah dengan “Theorie Resptie”. Snouck berupaya agar hukum Islam menyesuaikan dengan adat istiadat dan kenyataan politik yang menguasai kehidupan pemeluknya. Islam jangan sampai mengalahkan adat istiadat, hukum Islam akan dilegitimasi serta diakui eksistensi dan kekuatan hukumnya jika sudah diadopsi menjadi hukum adat.

Sejalan dengan itu, pemerintah kolonial hendaknya menerapkan konsep “Devide et Impera” dengan memanfaatkan kelompok Elite Priyayi dan Islam Abangan untuk meredam kekuatan Islam dan pengaruhnya dimasyarakat. Kelompok ini paling mudah diajak kerjasama karena ke-Islaman mereka cenderung tidak memperdulikan “kekafiran” pemerintahkolonial Belanda.
Kelompok ini dengan didukung oleh konsep “Politik Asosiasi” melalui program jalur pendidikan, harus dijauhkan dari sistem Islam dan ajaran Islam, serta harus ditarik kedalam orbit “Wearwenization”. Tujuan akhir dari program ini bukanlah Indonesia yang diperintah dengan corak adat istiadat, namun Indonesia yang diper-Barat-kan. Oleh karena itu orang-orang Belanda harus mengajari dan menjadikan kelompok ini sebagai mitra kebudayaan dan mitra kehidupan sosial.

Kaum pribumi yang telah mendapat pendidikan bercorak barat dan telah terasosiasikan dengan kebudayaan Eropa, harus diberi kedudukan sebagai pengelola urusan politik dan administrasi setempa. Mereka secara berangsur-angsur akan dijadikan kepanjangan tangan pemerintah kolonial dalam mengemban dan mengembangkan amanat politik asosiasi.

Secara tidak langsung, asisiasi ini juga bermanfaat bagi penyebaran agama Kristen, sebab penduduk pribumi yang telah berasosiasi akan lebih mudah menerima panggilan misi. Hal itu dikarenakan makna asosiasi sendiri adalah penyatuan antara kebudayaan Eropa dan kebudayaan pribumi Hindia Belanda. Asosiasi yang dipelopori oleh kaum Priyayi dan Abangan ini akan banyak menuntun rakyat untuk mengikuti pola dan kebudayaan asosiasi tersebut.

Pemerintah kolonial harus menjaga agar proses transformasi asosiasi kebudayaan ini seiring dengan evolusi sosial yang berkembang dimasyarakat. Harus dihindarkan, jangan sampai hegemoni pengaruh dimasyarakat beralih kepada kelompok yang menentang program peng-asosiasi-an budaya ini.

Secara berangsur-angsur pejabat Eropa dikurangi, digantikan oleh pribumi pangreh praja yang telah menjadi ahli waris hasil budaya asosiasi hasil didikan sistem barat. Akhirnya Indonesia akan diperintah oleh pribumi yang telah ber-asosiasi dengan kebudayaan Eropa.

Konsep-konsep Snouck tidak seluruhnya dapat dijalankan oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda, sehingga tak seluruhnya dapat mencapai hasil yang maksimal. Namun setidaknya selama itu telah mampu meredam dan mengurangi aksi politik yang digerakkan oleh umat Islam. Pada akhirnya, umat Islam pula yang menjadi motor penggerak gerakan kemerdekaan Indonesia di tahun 1945.

Snouck yakin tujuannya adalah tujuan yang realistis, seperti yang dijelaskannya dalam sebuah surat kepada temannya Goldziher: "Saya yakin bahwa di Indonesia kompromi antara Islam dan humanisme adalah mungkin."

Dan dia melihat mewujudkan kompromi ini sebagai tugas sebenarnya sebagai seorang orientalis: "Perkembangan dunia orang-orang Islam ke arah budaya kita, itu adalah bagian tak terpisahkan dari pekerjaan hidup saya."

Andreas De Vries adalah konsultan manajemen internasional, dan pembicara internasional dan penulis beberapa publikasi mengenai urusan geopolitik, ekonomi dan Islam. Ia juga merupakan kontributor tamu untuk New Civilization.
Pandangan yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulisnya sendiri dan tidak mencerminkan kebijakan editorial New Civilization.

-------------------------------------------------------------------
[1] Pemerintah Belanda mendanai perjalanan Snouck secara tidak langsung, dengan memberinya hibah melalui Royal Institute for Linguistics and Anthropology yang didanai Pemerintah (Koninklijk Instituut voor Taal-, Land-, en Volkenkunde).
[2] Untuk informasi lebih lanjut tentang Raden Abu Bakar, lihat: "Raden Aboe Bakar; Sebuah catatan pengantar tentang informan Snouck Hurgronje di Jeddah (1884-1912) ", oleh Michael Laffan, dalam" Bijdragen tot de Taal-, Land-en Volkenkunde ", volume 155, nomor 4, halaman 517-542, Leiden, 1999. www .kitlv-journals.nl / index.php / btlv / issue / view / 673 / showToc
[3] Menurut PS Van Koningsveld. Beberapa sumber lainnya mengatakan bahwa tanggalnya adalah tanggal 22 Februari 1885.
[4] Menurut kurator sebuah pameran tentang Snouck di Dubai, Elie Domit, Snouck telah menikah di Mekah ke seorang wanita Muslim Ethiopia. Ketika dia melarikan diri dari kota, dia meninggalkannya - hamil pada saat itu - di belakang. Lihat: www.arabnews.com/lifestyle/article199027.ece
[5] Hari ini Jakarta.
[6] Sunda dan Jawa Barat adalah suku utama di Pulau Jawa di Indonesia.
[7] Tradisi.
[8] Bahasa Indonesia untuk "madrasah".
[9] Dalam surat ini Snouck berbicara dengan Menteri Urusan Kolonial Belanda, APC van Karnebeek.
[10] Seorang hakim Islam dengan tanggung jawab administratif untuk masjid dan personilnya.
[11] Istilah lama Belanda untuk Indonesia.
[12] Selama Perang Dunia Pertama Snouck memiliki sedikit perubahan hati. Saat itu dia mendesak pemerintah Belanda untuk tidak mengizinkan umat Islam Indonesia untuk pergi haji, karena dia yakin bahwa kontak antara Muslim Indonesia dan negara Islam harus benar-benar hancur pada masa perang.


Sumber: 
“Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka baginya pahala seperti pahala orang yang melakukannya.” (HR. Muslim: 1893)
Sebarkan jika Bermanfaat, Klik Tombol di bawah ini ^_^

Cara-Cara Menghasilan Uang dari YouTube dengan Mudah

Saat ini, menghasilkan uang dari internet bukanlah hal yang mustahil. Salah satu cara mendapatkan uang tersebut adalah lewat YouTube. Cara m...